Studi tahun 2022 itu, yang belum melalui proses telaah sejawat, membandingkan data kepolisian, yang merupakan data resmi untuk bunuh diri, dengan Sample Registry System (SRS) di Kementerian Kesehatan.
Pun Dr. Sandersan Onnie, mahasiswa pasca-doktoral di Black Dog Institute Australia dan peneliti utama dalam studi tersebut, mengatakan angka bunuh diri yang sebenarnya bisa jauh lebih besar dari yang terlapor karena berbagai masalah dalam alur pendataan (Bbc.com, 25/01/2023).
Dari itu, kasus bunuh diri menjadi cermin terganggunya kesehatan mental masyarakat, dengan pelaku berbagai usia. Hal ini nyata menunjukkan adanya gangguan pada mental masyarakat. Pun semuanya mengerucut pada sistem yang diterapkan saat ini, yakni sekuler.
Sementara itu, Islam memandang bahwa manusia secara utuh, dan menyeluruh. Karena itu pembangunan manusia tidak hanya dari aspek fisik, tetapi juga mental dan menjadikan akidah Islam sebagai landasan dalam berbuat. Sehingga nantinya mampu menghasilkan manusia yang tangguh, sabar akan cobaan dan yakin akan adanya hari akhirat.
Di samping itu, sistem Islam juga turut berperan penting dalam menjamin kehidupan warga negaranya, baik itu berupa kebutuhan pokok yang mana negara memberikannya secara langsung.
Hal itu seperti dalam masalah kesehatan, pendidikan dan keamanan. Sedangkan pemberian tidak langsung dari negara ke warganya berupa sandang, pangan dan papan. Dari itu jelas akan mampu mengurangi adanya tekanan psikis.
Oleh karena itu, untuk meminimalisasi bahkan menuntaskan kasus bunuh diri butuh adanya sinergi antara peran keluarga, masyarakat dan tak kalah penting adalah peran negara selaku pengambil kebijakan yang memilki kekuatan hukum dalam menerapkan aturannya.
Olehnya itu, sudah selayaknya umat ini kembali pada aturan yang mampu memberi solusi yang menyeluruh, yakni yang bersumber dari Allah SWT. Wallahu a’lam.(***)
Penulis adalah Guru Asal Konawe
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post