Jika cuaca atau kondisi jalan buruk dan pangkalan yang dituju berada jauh di pelosok, prosesnya lebih sehari. Sang sopir biasanya dikawal dua orang kernet dalam perjalanan mengantar kebutuhan bahan bakar rumah tangga tersebut dari Kendari ke Bombana.
Empat tahun Muhibah bertugas mengawasi hilir mudik suplai gas 3 kg. Dibalik kondisi aman stok tabung elpiji masyarakat Kabupaten Bombana, kata dia, cukup banyak cerita kendala dilalui para sopir di lapangan.

“Kadang ada keterlambatan pengisian di CCI, kondisi cuaca buruk suplai gas terganggu di sana. Dari Kendari Bombana, ada jalan yang rusak, perjalanan jadi lama. Sopir-sopir kita itu ada yang mesti harus bermalam untuk antrean mengisi gas. Sampai 50 mobil yang mengantri. Belum lagi kalau ada kendaran mogok di perjalanan ke pangkalan-pangkalan di Bombana,” ulasnya panjang lebar.
Kondisi hujan, jalan yang rusak, medan pegunungan serta jaringan telekomunikasi yang tidak memadai adalah sekelumit tantangan lain yang menghambat proses distribusi gas elpiji ke pelosok Kabupaten Bombana.
“Banyak gunung, kadang truknya susah mendaki. Jalan licin kalau hujan. Telepon kadang tidak bisa karena beberapa daerah di sana memang tidak ada jaringan. Alhamdulilah sampai saat ini tidak ada yang namanya kecelakaan atau hal buruk. Paling ya agak terlambat sampai ke pangkalan,” cerita Muhibah.
Para sopir, tidak hanya wajib memiliki skill mumpuni mengendalikan truk kala mengangkut gas ke pangkalan di desa-desa Bombana. Beberapa SOP wajib ditaati lantaran yang diangkut merupakan bahan bakar yang rawan meledak. Semisal aturan wajib larangan merokok selama berkendara.
Sopir maupun kernet juga dibekali tips memastikan kondisi tabung gas yang diangkut ‘aman’, tak berpotensi membawa petaka.
“Kalau ada gas yang bocor itu mereka sudah paham. Baunya tajam. Untuk cek tabung yang bocor, itu ceknya pakai air. kalau ada gelembung tandanya tabung bocor. Itu mesti diganti cepat. Tabung yang sudah tidak layak itu langsung diganti ketika proses pengisian di Sambuli,” jelasnya.
Beruntung, Kata Muhibah, keterlambatan pasokan gas elpiji 3 kg sejauh ini tidak sampai menimbulkan kelangkaan di masyarakat.
“Kita selalu kontrol kalau ada pangkalan yang stoknya mulai menipis. Untuk daerah yang tidak ada signal, dari sana yang pro aktif kabari cepat karena kan kita sama sekali tidak bisa menghubungi mereka,” pungkasnya.
Jamin Pasokan Aman
PT Pertamina selalu mengupayakan pasokan LPG aman sehingga kondisi kelangkaan gas dan gejolak harga bisa ditekan. Berbagai upaya dilakukan ketika terjadi kendala dalam proses distribusi gas di daerah.
“Kalau BBM langka itu kita pasti gelisah. Ada beberapa hal semisal tentang kondisi BBM atau gas lagi ada masalah di perjalanan atau stok menipis, kita tidak sampaikan ke publik, jangan sampai ada yang menimbun, barangnya langka jadinya mahal tiba di masyarakat,” cerita Unit Manager Communication & CSR MOR VII, Laode Syarifuddin Mursali saat tatap muka dengan awak media di Kendari.
Proses distribusi LPG ke agen yang mengalami kekosongan menjadi prioritas. Semisal yang pernah terjadi di Kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara medio Juni tahun 2020.
Pertamina melakukan koordinasi cepat dengan instansi setempat. Waktu operasional SPPBE Kolaka kala itu bahkan ditambah agar permasalahan ketersediaan LPG 3 kg di lapangan bisa teratasi.
“Kami akan prioritaskan pengiriman LPG 3 kg ke kelurahan dan kecamatan yang mengalami kekosongan stok,” ujar Hatim Ilwan yang saat itu menjabat Unit Manager Communication & CSR MOR VII.
Pada periode libur panjang seperti momen libur perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun lalu, pasokan pasokan ditambah.
Laode Syarifuddin Mursali mengatakan, kala itu Pertamina menambah pasokan LPG Fakultatif sebesar total 1.781 Metrik Ton (MT) khusus untuk libur panjang, dengan Rincian Sulsel 829 MT, Sultra 119 MT, Sulteng 223 MT, Sulbar 257 MT, Sulut 246 MT dan Gorontalo 107 MT.
“Untuk LPG Se-Sulawesi kita tambah 1781 MT atau sekitar 593.500 Tabung dari rencana penyaluran awal untuk bulan Oktober 41.475 MT. Sehingga total penyaluran untuk bulan Oktober direncanakan 43.525 MT atau 14.508.440 tabung LPG,” ujar Laode dalam keterangan persnya, Selasa 27 Oktober 2020.
Pertamina juga memberlakukan status siaga dan mengawasi seluruh agen dan pangkalan LPG agar proses penyaluran sesuai sasaran.
Mengenai bandrolan gas yang melampaui HET, kekinian Pertamina lewat Pertashop ikut membackup kebutuhan konsumsi gas. Pertashop adalah bagian lembaga penyalur BBM skala kecil di pelosok. Kehadiran Pertashop menjadi salah satu solusi menekan harga gas melambung di pedesaan lewat program ‘One Village One Outlet’.
SPBU mini tersebut selain menyediakan BBM dan pelumas, juga ikut menyuplai kebutuhan gas elpiji bagi desa terpencil yang belum terjangkau SPBU maupun pangkalan resmi gas subsidi.
Penulis: Siti Marlina
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post