Lain halnya dalam Islam yang mana sebelum terjadi suatu perkara yang menimbulkan dampak negatif, jauh sebelumnya Allah SWT telah memberi peringatan bagi hambanya. Sebagaimana Allah telah memperingatkan dalam Al-Qur’an surat al-Isra’ ayat 32 yang artinya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk”. Sedangkan pemicu terbesar dari kasus HIV/AIDS adalah perilaku seks bebas.
Dalam hal ini, upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut di antaranya: Pertama, memblokir semua media elektronik maupun cetak yang menayangkan/mempertunjukkan seks, berbau seks dan yang sejenisnya. Kedua, menutup semua akses produksi dan distribusi video porno atau yang berbau porno dan segala jenisnya.
Ketiga, menyetop semua bentuk penyuluhan batil tentang HIV/AIDS, semacam membagikan kondom secara cuma-cuma, atau mengajarkan seks yang aman. Keempat, memberi hukuman yang dapat membuat efek jera bagi pelakunya. Sehingga orang lain tak akan berpikir untuk melakukan hal yang serupa.
Di samping itu, syariah Islam ketika diterapkan akan menjaga kemuliaan dan kehormatan manusia, menerapkan sistem pergaulan islam yang tidak akan membiarkan perbuatan mendekati zina, apalagi zina dan LGBT.
Umat Islam akan dikuatkan keimanannya bahwa syariat Islam membawa kemaslahatan dan pelanggaran syariah akan membawa mafsadah terbukti dengan munculnya penyakit HIV/AIDS sebagai azab dunia, akibat perilaku bejat tersebut. Pun akan diberikan sanksi yang tegas berupa cambuk dan rajam bagi siapa saja yang melakukan pelanggaran sebagai bentuk perlindungan terhadap masyarakat.
Dengan demikian, masalah HIV/AIDS saat ini sulit terselesaikan, jika kurangnya sinergi antara peran individu, masyarakat terlebih negara. Sebab negara sebagai institusi tertinggi yang dapat mengatur dan membuat kebijakan yang dapat meminimalisir adanya HIV/AIDS.
Olehnya itu, tiada hal yang lebih baik, selain kembali memberlakukan aturan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan. Karena yang mengetahui mana yang terbaik untuk manusia, tentu yang menciptakan manusia, yakni Allah SWT. Wallahu a’lam bi ash-shawab.(***)
Penulis: Freelance Writer
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post