Bagaimana berharap karya jurnalistik di media siber akan dibaca karena informasinya seragam, susunan katanya tidak berbeda, sudut pandanganya senada, pilihan katanya itu-itu saja seperti telah disajikan media yang lain sebelumnya beberapa detik yang lalu? Tidak ada pengayaan, tidak tertunjukkan pengetahuan, pengalaman, kedalaman dan keluasan wawasan?
Karya jurnalistik sering dikatakan sejatinya adalah karya intelektual, mencerminkan kecerdasan dan sosok jati diri si wartawan, sebagai akumulasi dari pergulatan dalam bidang yang dia tekuni. Bukan sekadar jajaran kata dan kalimat yang dibuat tanpa hati, tanpa visi, sekadar meneruskan press release, jumpa pers, atau kepentingan orang lain.
Berita adalah pertemuan kepentingan publik dan olah rasa dan karsa seorang pekerja lapangan yang mengerti duduk persoalan sebuah peristiwa.
Iya betul, profesi wartawan bukan sekadar pekerja. Untuk menghidupi keluarga, untuk membuat asap di dapur mengebul atau memenuhi sandang dan papan. Dia punya tugas mulia untuk memuliakan orang kecil. Dia menggugat ketidakadilan dengan menyuarakan aspirasi warga yang tersisihkan dari arus utama.
Dia menyalurkan aspirasi mereka yang disusahkan. Dia memberi informasi mereka yang tidak tahu. Dia mendidik mereka yang tidak faham. Dia menginspirasi mereka yang ingin maju tetapi tidak mampu. Dia memberi wawasan mereka yang berpikiran sempit dan seperti katak dalam tempurung.
Oleh karena itu tentu saja mereka haruslah terpelajar dalam arti kompeten akan profesinya. Memiliki kesadaran etika, menghayatinya, dan menjunjung tinggi etika itu dalam perbuatan dan produk jurnalistiknya. Tidak sekadar hafal tetapi tidak mempraktekkannya.
Dia harus berpengetahuan luas, membaca apa saja khususnya yang terkait profesinya. Tanggap akan aturan dan ketentuan baru, mengikuti perkembangan, memahami isyu-isyu aktual yang ada di masyarakatnya. Tidak bosan bertanya dan mencari tahu agar sebagai “guru publik” dia tidak tersesat informasi.
Dia juga harus terampil dalam menyajikan peristiwa yang akan dijadikannya karya jurnalistik, mengolah berbagai informasi dari kejadian maupun kepustakaan, dengan pilihan bahasa yang paling mewakili pikirannya agar tepat sasaran dan tidak menimbulkan persoalan. Agar beritanya enak dinikmati, menyentuh, mendudukkan persoalan sebagaimana mestinya.
***
Lalu apakah dengan semua kemampuan itu wartawan hidup sejahtera? Inilah tantangan berikutnya bagi mereka yang ingin menjadi wartawan sebagai profesi.
Profesi wartawan menjadikan Anda berpeluang dihormati, iya. Menjadikan Anda dapat berdiri bersama Presiden, duduk bersama Menteri, berbincang dengan Gubernur, menelpon Jenderal, diundang ke luar negeri, itu betul. Tetapi menjadikan Anda sejahtera, belum tentu. Bahkan kemungkinannya kecil.
Wartawan yang taat pada kode etik, menjaga martabat dan nama baiknya, setia pada jati diri profesinya, tidak akan pernah bisa kaya. Ya, hidup normal saja. Menyekolahkan anak ke perguruan tinggi swasta pun mungkin sulit. Membelikan anak HP terbaru pun mungkin tidak bisa. Karena paling dia dapat nafkah dari gaji, atau barangkali narasumber karena dianggap pakar atau spesialis, atau dari buku yang dia tulis.
Tetapi kalau wartawan hanya dianggap cuma sebagai pekerjaan, bahkan untuk mencari relasi kepentingan bisnis, sebagai tangga untuk melompat menjadi kontraktor, agar mendapatkan informasi yang memberikan keuntungan. Atau untuk mendapatkan uang secara mudah setiap saat, bisa jadi Anda menjadi orang “kaya”.
Tetapi yang jelas Anda tidak akan lagi bisa disebut sebagai wartawan. Cuma numpang nama saja.(***)
Penulis adalah Wartawan Senior, Wakil Ketua Dewan Pers
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post