Kelangkaan minyak goreng pada sejumlah daerah dan tingginya biaya angkut di tengah gejolak politik dan krisis ekonomi turut menjadi salah satu penyebab kelangkaan minyak goreng saat itu.
Kini, persoalan serupa kembali terjadi, kelangkaan minyak goreng disebabkan oleh sejumlah faktor, yakni adanya penimbunan, pengalihan penjualan dengan harga yang lebih mahal, dan kepanikan masyarakat yang memicu pembelian dalam jumlah banyak (panic buying).
Dari catatan sejarah terkait kelangkaan minyak goreng di Indonesia, diketahui bahwa banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kelangkaan minyak goreng.
Gejolak politik, stabilitas harga minyak sawit, pasokan bahan baku, hingga biaya angkut menjadi faktor pendorong yang berdampak pada keresahan sosial di tengah-tengah masyarakat. Keresahan sosial ini tergambar dari sebagian masyarakat yang rela antri lama untuk mendapatkan minyak goreng dengan harga murah.
Hal ini menegaskan bahwa keresahan sosial akibat kelangkaan minyak goreng bisa menimbulkan krisis kepercayaan kepada pemerintah. Yang berimplikasi pada kerusuhan sosial.
Bagaimanapun, sebagai bahan kebutuhan utama, stok minyak goreng tentu perlu dijamin untuk selalu tersedia di tengah-tengah masyarakat. Jika tidak, implikasinya tentu akan menyentuh ranah kekuasaan politik karena menimbulkan keresahan sosial.
Berdasarkan sejarah setiap rezim tumbang karena tidak mampu mengelola kebutuhan pokok sandang pangan atau sembako, dan ini menjadi catatan kritis rezim Jokowi.(***)
Penulis: Koordinator Umum Visi 98
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post