Rupanya para pencuri sudah tidak takut lagi kepada Tuhan. Tidak gentar kepada Allah. Mereka tak peduli mencuri di rumah Allah. Tak ada sebiji pun rasa sungkan mencuri di rumah Tuhan, di masjid. Ketamakan dan jalan pintas mencapai materi di dunia, lebih utama bagi para penjahat itu ketimbang menyadari mencuri di rumah Tuhan merupakan perbuatan tercela yang luar biasa. Perbuatan dosa besar. Mereka gak peduli rumah Tuhan atau bukan. Mereka sudah tidak lagi memiliki kepekaan sosial.
Menyadari fenomena ini, akhirnya pengurus masjid memutuskan memasang CCTV atau kamera pengintai. Beberapa kamera dipasang menghadap ke depan dan dapat memantau pekarangan dan tempat parkir masjid. Begitu juga di dalam masjid dipasang beberapa kamera.
Setelah pemasangan kamera, ditempel striker kecil: masjid ini diawasi oleh kamera, lengkap dengan gambar CC. Adanya kamera ini memungkinkan diketahui apa yang sebenarnya terjadi. Jika ada pencurian, khususnya pencurian motor, dapat dilihat dari rekaman siapa pelakunya dan bagaimana melakukan pencurian.
Sebenarnya, ini hanya upaya membantu saja buat mengurangi pencurian di lingkungan masjid. Tetapi apa yang terjadi? Sejak adanya kamera, ternyata hampir tidak ada lagi pencurian motor. Untuk sandal dan sepatu cuma sekali dua kali saja, itu mungkin lantaran hanya tertukar.
Rupanya manusia dewasa ini kini lebih takut kepada pengawasan melalui pengintaian kamera ketimbang takut kepada Tuhan. Bukti fisik di duniawi lebih ditakutkan dibandingkan bukti yang dilihat oleh Allah dan kelak diminta pertanggungjawaban “di alam sana.”
Apakah jiwa para penjahat memang demikian? Ataukah justru hal itu merefleksi rata-rata dari mentalitas kita?
T a b i k!
(Bersambung…)
Penulis adalah wartawan dan advokat senior dan juga Dewan Pakar Muhammadiyah
(Tulisan ini merupakan reportase/opini pribadi dan tidak mewakili organisasi)
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post