Masalahnya belum selesai, karena sedang dimintakan diperiksa Ombudsman RI dan Menkopolhukam.
Rakyat menanti satu nama dari tiga usulan Gubernur Sultra. Tidak ada kondisi tertentu yang disyaratkan regulasi untuk munculnya nama di luar usulan Gubernur.
“Tidak ada ancaman NKRI disana, tidak ada pembangunan strategis yang harus dijaga keberlanjutannya dan tidak ada penolakan atas tiga nama dari rakyat disana”
Karenanya sangat miris Pj yang muncul dari Kemendagri, La Ode Budiman, Sekda “seumur jagung”. Tidak ada alas prestasi atau kompetensi yang bisa jadi harapan.
Jauh dari dibawah kompetensi dari tiga nama yang diusulkan Gubernur. Kok malah dipilih Kemendagri.
Pj Busel bukan terkait dengan nasib dan peluang seseorang. Pj terkait dengan kepentingan rakyat Buton Selatan untuk membangun daerah dengan akal sehat, ilmu dan semangat kebersamaan.
Mantan Bupati La Ode Arusani dan keluarga sudah kaya, nasibnya sudah baik. Jabatan inti daerah sudah dipegang semua. Bisa periksa asetnya. Bahkan sudah punya pelabuhan sendiri.
Rakyat yang belum dapatkan nasibnya. Pj yang mumpuni adalah pintu harapan itu.
Saatnya Gubernur Ali Mazi, menggunakan sifat Oputa Yikoo yang sedang kita peringati napak tilasnya.
Gubernur harus tegas, argumentatif. Semata rakyat yang dibela. Jauh dari sifat “ayam sayur”, istilah Jakarta.
Terimakasih. Mohon maaf jika ada kata yang tidak berkenan. Kabarakatina tana Wolio.(***)
Jakarta, 23 Mei 2022
Penulis: Ketua Umum Kibar Indonesia, Relawan Jokowi, Pembina Yayasan Pendidikan Permata Hati-Tangerang, Kelahiran Majapahit, Batauga (1964)
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post