
Sebelum ada aplikasi OurFish, DKP Buton mencari data secara manual dengan mewawancarai beberapa nelayan.
Dengan aplikasi OurFish, data niaga ikan termasuk potensi perikanan di daerah itu disajikan real-time dan lebih akurat. Dari sisi efisiensi waktu, dinas setempat juga tidak disibukan lagi dengan aktifitas survey data perikanan setiap pekan.
“Kita ambil sampel wawancara seminggu sekali. Tapi dengan OurFish tidak perlu ke lapangan, cukup liat ke aplikasi, paling kita tanya saja kalau ada kendala,” kata Sri.
Hal senada juga diungkapkan Technical Fisheries Associate Rare, Haris Setiawan. Ia mengatakan, dalam aplikasi ini pengumpul pertama di tingkat desa dilibatkan sebagai aktor penting dalam mengumpulkan data hasil tangkapan dan informasi yang akurat dari lapangan.
“Dari data tersebut, DKP dapat mengambil keputusan, misalnya untuk mengetahui jenis-jenis ikan yang ada di Kapontori saat ini, kondisinya semakin baik atau semakin menurun. Di perikanan, tidak mudah mengumpulkan data. Makanya jalan keluarnya menggunakan OurFish,” ujar Haris.

Setiap pengumpul biasanya bekerja dengan puluhan nelayan. Sehingga akan banyak data yang bisa dijangkau secara efisien.
“Kenapa pengumpul dan bukan nelayan, karena nelayan pekerjaan utamanya adalah menangkap ikan dan mungkin tidak akan fokus dalam pencatatan,” jelas Haris.
Program Manager Rare, Imanda Hikmat Pradana turut pula menambahkan. Kata dia, manfaat OurFish mungkin belum begitu dirasakan bagi nelayan dan pengepul.
“Sebab, faedah aplikasi ini baru terlihat dalam beberapa tahun ke depan,” tutur Imanda.
Mari kita lihat dua hingga tiga tahun kedepan jika digunakan secara kontinu, bisa jadi seperti yang dikatakan Imanda. Jadi cerita Samsung dan Samsul masih berlanjut.
Penulis: Yeni Marinda
Jangan lewatkan video terbaru:
https://youtu.be/0W-wbOUeNCQ
Discussion about this post