PENASULTRAID, JAKARTA – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia sekaligus Founder Rumah Perubahan Prof. Rhenald Kasali menyebut artificial intelligence (AI) telah menghancurkan monopoli pengetahuan yang selama ini dipegang dosen. Bahkan kerap viral di media sosial, candaan sebagian generasi muda yang menganggap kuliah adalah scam (penipuan).
Pernyataan itu disampaikan di hadapan ratusan pimpinan perguruan tinggi dalam Executive Workshop SEVIMA bertajuk “Lead The Future: Memimpin Orkestrasi Kampus Berdampak dengan Artificial Intelligence (AI) dan Kurikulum Outcome Based Education (OBE).”
Bagi Prof. Rhenald Kasali, ini adalah wake-up call (panggilan) bagi kampus untuk segera berubah.
“Sekarang, dosen bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. GenZ sudah punya orang cerdas kepercayaan di sini. Dia lebih percaya yang disini. AI bisa menjelaskan lintas disiplin. Jadi kalau kita tidak melakukan apapun, AI sudah siap menghancurkan monopoli pengetahuan dari dosen,” ujar Rhenald dalam Executive Workshop SEVIMA, Rabu 18 Februari 2026 di Rumah Perubahan, Jakarta.
Untuk berubah, pendidikan yang dulunya adalah proses menyalurkan ilmu dari dosen kepada mahasiswa, harus diubah. Yaitu untuk mengonstruksi manusia, membentuk dan mengembangkan potensi individu sesuai dengan keunikan masing-masing.
Untuk mendiskusikan problematika ini, hadir Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Dr. Henri Togar, Guru Besar Universitas Indonesia dan penggagas Rumah Perubahan Prof. Rhenald Kasali serta para pakar sebagai narasumber.
Acara ini juga dibuka secara hybrid oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Gubernur DKI Jakarta, Menteri Agama, dan berbagai pejabat tinggi lainnya serta diikuti oleh ratusan rektor dari seluruh Indonesia.
Berikut tiga tips bagi perguruan tinggi untuk segera berubah di era perkembangan AI:
1. Petakan Dulu Masalah Dasar Pendidikan
CEO SEVIMA Sugianto Halim mengatakan, pendidikan tinggi di Indonesia membutuhkan transformasi mendesak.
Sebagai catatan, data yang menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan yakni Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia stagnan di angka 32,89 persen selama hampir delapan tahun. Artinya hanya 32 dari 100 anak usia kuliah yang mengenyam pendidikan tinggi.
Padahal target RPJPN menuju Indonesia Emas 2045 mematok 60 persen, sebuah lompatan yang menuntut pertumbuhan eksponensial. Kesenjangan antar wilayah memperparah situasi, dimana APK Yogyakarta di 74 persen dan Papua Pegunungan hanya 13 persen, sementara 9,9 juta anak muda berstatus NEET (tidak kuliah, tidak bekerja, tidak mengikuti pelatihan).
Namun, ada juga peluang. Berdasarkan survei yang dilakukan SEVIMA terhadap lebih dari 300+ pimpinan dan civitas perguruan tinggi di Indonesia, ditemukan fakta bahwa 68,1 persen institusi berencana memprioritas teknologi generative AI ke dalam sistem mereka dalam tiga tahun ke depan.
Ini bukan angka kecil. Ini adalah sinyal kuat bahwa arah transformasi digital di dunia pendidikan tinggi sudah mulai bergeser dari digitalisasi administratif menuju pemanfaatan teknologi cerdas berbasis AI.
Kepala LLDIKTI Wilayah III Dr. Henri Togar menegaskan OBE sebagai instrumen strategis agar AI tidak sekadar menjadi gimmick.
Menurutnya teknologi harus mendukung pencapaian kompetensi lulusan melalui tiga tahap, yakni perencanaan (memetakan capaian pembelajaran), pelaksanaan (pembelajaran interaktif-adaptif), dan evaluasi (penilaian objektif berbasis bukti).
Urgensinya, kebutuhan tenaga kerja sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) diperkirakan 2 juta orang saat ini dan diproyeksikan melonjak hingga 9 juta pada 2030 dengan permintaan kuat di bidang AI.
Sementara dari 244 PTS di bawah binaannya, prodi yang secara eksplisit fokus pada kecerdasan buatan baru ada di 2 kampus dan belum menghasilkan lulusan.


Discussion about this post