Di sisi lain, banyaknya ibu yang mengalami gangguan kesehatan mental dipicu oleh sistem kapitalisme. Bagaimana ibu mau sehat mentalnya jika untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja begitu susah? Bagaimana pula ibu bisa berpikir jernih dan tidak terbebani jika sistem kapitalisme mempersulit para ayah mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarganya?
Pun bagaimana akan keluar dari lingkaran stres, sedangkan orang tua menanggung beban ekonomi yang berat dan melelahkan? Faktanya, bahkan beberapa kasus ibu membunuh anak kerap dipicu kehidupan ekonomi yang kian berat.
Kondisi baby blues syndrome sebenarnya bisa dicegah sejak dini, yaitu menyiapkan sistem pendidikan dan supporting system, dalam hal ini negara sebagai pembuat kebijakan. Kurikulum pendidikan Islam sangat komprehensif dan sesuai fitrah manusia sehingga mampu menyiapkan setiap individu mengemban peran mulia sebagai orang tua, termasuk menjadikan orang tua sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya kelak.
Islam pun memiliki tahapan dalam menyiapkan generasi sebagai calon orang tua masa depan yang tangguh. Tahapan tersebut di antaranya: Pertama, menerapkan kurikulum berbasis akidah Islam. Tujuan pendidikan Islam adalah membentuk kepribadian Islam pada setiap individu serta membekali generasi dengan tsaqafah Islam.
Jika hal ini sudah terbentuk, setiap individu akan memiliki pondasi akidah Islam yang kuat. Pandangannya tentang dunia dan akhirat jelas akan berbeda.
Para calon ibu dan ayah yang memahami peran mulia sebagai orang tua, tidak akan mudah mengalami gangguan stres atau depresi dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Mereka akan berupaya menjadi orang tua terbaik yang diinginkan Allah Taala.
Mereka juga memahami bahwa anak adalah titipan sekaligus amanah dari-Nya. Mereka akan menjalankan perannya dengan baik karena di situlah letak kemuliaan orang tua di sisi Allah, yakni mampu mendidik anak-anak menjadi generasi rabbani.
Kedua, dukungan sistem politik ekonomi Islam yang menyejahterakan. Untuk menghilangkan stres dan beratnya beban hidup, negara harus menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok masyarakat secara optimal, seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Tentunya dengan tersedianya lapangan kerja.
Jika ayah mendapat kemudahan mencari nafkah, ia bisa menghidupi keluarganya dengan baik. Kaum ibu juga tidak perlu bekerja demi membantu perekonomian keluarga. Para ibu bisa fokus mengasuh dan mendidik anak mereka dengan baik.
Negara juga harus menjamin pendidikan dan kesehatan dapat diakses dan dinikmati masyarakat secara gratis. Negara mengontrol dan mengawasi media agar tidak tersebar tayangan, berita, dan konten yang berbau kekerasan, eksploitasi seksual, pornografi, dan segala hal yang merusak kepribadian generasi.
Ketiga, supporting system berupa lingkungan sosial masyarakat yang islami. Negara menciptakan kehidupan masyarakat yang bersih dari kemaksiatan sehingga terwujud masyarakat yang terbiasa beramar makruf nahi mungkar, serta saling menolong dan menyayangi antarsesama.
Begitulah ketika penerapan sistem sosial pergaulan Islam berjalan secara holistik. Kemaksiatan dan kriminalitas akan menurun seiring terwujudnya masyarakat bertakwa dan berada dalam suasana iman yang kukuh.
Oleh karena itu, saat ini sulit menjadikan ibu yang memiliki kesehatan mental yang baik, jika sistem yang ada masih jauh dari harapan. Oleh karenanya, butuh sinergi dari semua elemen dan hal itu hanya mungkin terwujud jika aturan-Nya diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Karena sungguh yang mengetahui mana yang terbaik untuk hambanya, yakni yang menciptakan hamba, Allah SWT. Wallahu a’lam bishawab.(***)
Penulis adalah Guru dan Asal Konawe
Jangan lewatkan video populer:
Discussion about this post