Sementara itu, instrumen saham berada di posisi kedua dengan porsi 28,07 persen (46.288 investor), namun mencatatkan laju pertumbuhan tahunan tertinggi mencapai 60,39 persen. Adapun Surat Berharga Negara (SBN) berkontribusi sebesar 1,81 persen dengan 2.977 investor.
Bismi mengatakan, sebaran investor masih terpusat di wilayah daratan Sultra. Kota Kendari kembali mendominasi dengan kontribusi sekitar sepertiga dari total transaksi tingkat provinsi. Ibu kota provinsi ini mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp239,34 miliar dengan frekuensi 62.943 transaksi.
Menyusul di posisi berikutnya adalah Kabupaten Kolaka dengan 17.247 SID dan Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) dengan 13.086 SID.
OJK menilai lonjakan ini merupakan sinyal positif atas meningkatnya literasi keuangan masyarakat di Sultra.
Masyarakat dinilai semakin memahami pentingnya investasi aset produktif di pasar modal sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.
Penulis: Yeni Marinda
Jangan lewatkan video populer:


Discussion about this post