Marjuwan juga mengaitkan hal ini dengan hadis Nabi Muhammad SAW: jika kiamat akan terjadi sementara di tangan seseorang terdapat benih tanaman, maka tetaplah menanamnya. Pesan ini menunjukkan bahwa pertanian adalah pekerjaan yang akan bertahan hingga akhir zaman.
Generasi Muslim vs Generasi Barat
Ustaz Marjuwan membandingkan generasi muda muslim Indonesia dengan generasi Barat, yang menurutnya sering kurang dekat dengan orang tua dan mandiri terlalu dini, sehingga berpotensi mengalami krisis nilai.
Sebaliknya, generasi muda muslim Indonesia yang masih dekat keluarga memiliki modal penting untuk memimpin masa depan.
“Siapa yang akan mengisi kekosongan global jika generasi Barat melemah? Generasi muda Islam yang siap dan berkualitas akan mengisinya, membawa perkembangan Islam yang tinggi di berbagai belahan dunia,” ujarnya.
Pendidikan Agama dan Pembinaan Anak
Marjuwan meluruskan pandangan yang menilai pendidikan Agama tidak memiliki masa depan. Justru dari pesantren-lah lahir pemimpin masa depan yang dibekali ilmu agama, akhlak, dan karakter kuat. Ia juga menekankan peran orang tua dalam membimbing anak-anak sebagai aset umat dan bangsa.
Safari Ramadan 1447 H di Kolaka Timur menjadi momentum membangun kesadaran kolektif bahwa kebangkitan Islam sangat ditentukan oleh kualitas generasi muda.
Dengan bekal ilmu agama, penguasaan bahasa asing, serta kemandirian ekonomi berbasis pertanian dan peternakan, generasi muda diharapkan mampu menjadi pemimpin masa depan yang membawa keberkahan bagi umat, daerah, dan bangsa.
Penulis: Riyal H
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:


Discussion about this post