Oleh: Novrizal R Topa
Di antara riuhnya lalu lintas ibu kota, berdiri sebuah bangunan tua di Jalan Veteran II No. 7C, Jakarta. Salah satu bangun yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah di negeri si Pitung.
Kini, gedung itu menjadi markas Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat. Namun, dinding-dindingnya menyimpan jejak sejarah panjang, dari pusat operasi kolonial hingga menjadi rumah bagi insan pers nasional.
Berdasarkan penelusuran sejumlah literatur dan kesaksian sejarah, gedung ini pada mulanya merupakan pusat aktivitas Marsose, polisi rahasia Hindia Belanda.
Dari tempat inilah operasi intelijen dan pengawasan terhadap pergerakan warga pribumi dijalankan secara sistematis. Gedung ini menjadi simbol kontrol kolonial, tempat strategi dan siasat dirancang untuk membungkam perlawanan.
Tak jauh dari lokasi ini pula, tempat ini menjadi saksi bisu, dimana sejarah mencatat tumbangnya Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC yang menjabat dua periode, yaitu tahun 1619-1623 dan 1627-1629.
Nama Jan Pieterszoon Coen begitu lekat dengan ekspansi dan kekuasaan kolonial. Ironisnya, tokoh penting pemerintahan kolonial itu justru menemui ajal di tanah yang selama ini diawasi dengan ketat oleh aparatnya sendiri.
Peristiwa tersebut menjadi simbol bahwa kekuasaan sebesar apa pun tak pernah benar-benar kebal terhadap perlawanan rakyat.
Memasuki masa revolusi sekitar 1945, gedung ini kembali berubah peran. Kali ini, ia menjadi markas CC PKI di bawah pimpinan D. N. Aidit. Di ruang-ruangnya digelar rapat-rapat penting yang menentukan arah gerakan politik kala itu.
Gedung ini disebut-sebut menjadi salah satu tempat persiapan peristiwa besar dalam sejarah Indonesia, seperti Peristiwa Madiun 1948 dan Gerakan 30 September 1965, dua episode kelam yang membekas kuat dalam perjalanan bangsa.
Pasca meletusnya peristiwa 1965 dan meredanya pengaruh PKI, gedung tersebut diambil alih oleh Kodam III/Siliwangi, sebelum kemudian diserahkan kepada Kodam Jaya pada 1966.


Discussion about this post