Oleh: Atika Anwar Panne
Saat hujan deras turun di Kota Kendari, kita sering menyalahkan langit. Padahal, banjir tidak selalu lahir dari hujan yang terlalu banyak. Sering kali, banjir muncul karena air tidak lagi memiliki jalan yang layak untuk mengalir. Jalan yang seharusnya disediakan oleh drainase justru tersumbat, menyempit, dangkal, tertutup bangunan, atau tidak tersambung dengan baik ke saluran utama.
Inilah persoalan penting yang perlu dibaca secara jernih. Banjir di Kota Kendari bukan sekadar peristiwa alam, melainkan juga cermin dari tata kelola drainase perkotaan. Ketika saluran air tidak berfungsi optimal, hujan yang seharusnya menjadi berkah dapat berubah menjadi genangan, mengganggu aktivitas warga, memperlambat mobilitas, merusak lingkungan permukiman, bahkan mengancam keselamatan masyarakat.
Banjir berulang berarti ada sistem yang perlu dibenahi
Kota Kendari terus tumbuh sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan, jasa, dan permukiman. Pertumbuhan ini tentu menjadi tanda kemajuan. Namun, perkembangan kawasan terbangun juga membawa konsekuensi terhadap lingkungan.
Lahan terbuka semakin berkurang, permukaan tanah banyak tertutup beton dan aspal, sementara beban aliran air menuju drainase semakin besar.
Jika titik genangan muncul berulang pada lokasi yang sama, maka masalahnya tidak boleh dipahami sebagai kejadian mendadak. Itu adalah tanda bahwa sistem drainase, tata ruang, dan perilaku lingkungan belum bekerja secara terpadu. Karena itu, penanganan banjir tidak cukup hanya dengan turun setelah air menggenang. Kendari membutuhkan mitigasi yang dimulai sebelum hujan datang.
Drainase harus ditempatkan sebagai infrastruktur dasar kota. Ia menentukan ke mana air hujan bergerak, seberapa cepat air dialirkan, dan sejauh mana permukiman serta jalan terlindungi dari genangan. Pembenahan drainase perlu menjadi agenda utama pembangunan kota, bukan pekerjaan tambahan yang dilakukan setelah muncul keluhan warga.
Kegiatan solusi yang perlu menjadi agenda bersama
Langkah pertama adalah audit drainase kota secara menyeluruh. Pemerintah Kota Kendari perlu memetakan saluran primer, sekunder, dan tersier, termasuk titik yang tersumbat, dangkal, rusak, tertutup beton, atau tidak tersambung dengan baik.
Pemetaan berbasis Sistem Informasi Geografis akan membantu pemerintah menentukan prioritas penanganan berdasarkan bukti lapangan.
Langkah kedua adalah normalisasi dan pembersihan drainase secara rutin. Saluran yang dipenuhi lumpur, sampah plastik, daun, pasir, dan material bangunan tidak mungkin mampu menampung debit air saat hujan deras. Pembersihan drainase tidak boleh menunggu banjir terjadi atau menunggu keluhan warga viral di media sosial.
Langkah ketiga adalah memperkuat gerakan bersih drainase lingkungan. Banyak genangan bermula dari saluran kecil di sekitar rumah, lorong, dan kawasan permukiman. Kelurahan, RT/RW, komunitas pemuda, sekolah, tempat ibadah, dan kelompok masyarakat dapat dilibatkan dalam kerja bakti rutin untuk memastikan selokan tetap terbuka dan air mengalir lancar.
Ringkasan kegiatan solusi:


Discussion about this post