1. Audit drainase kota: Pemetaan saluran, titik genangan, arah aliran, dan kondisi saluran.
2. Normalisasi rutin : Pengerukan sedimentasi dan pembersihan saluran sebelum musim hujan.
3. Gerakan bersih drainase: Kerja bakti lingkungan dan edukasi agar warga tidak membuang sampah ke selokan.
4. Penertiban saluran tertutup: Pengawasan bangunan, lapak, parkir, dan material yang menutup drainase.
5. Drainase dalam izin bangunan: Kajian kapasitas saluran dan dampak limpasan untuk pembangunan baru.
6. Resapan dan layanan aduan: Sumur resapan, biopori, RTH, Satgas Drainase Kelurahan, dan kanal pengaduan cepat.
Drainase perlu didukung ruang resapan dan disiplin warga
Pembenahan drainase juga harus disertai penertiban bangunan dan aktivitas yang menutup saluran air. Di beberapa kawasan perkotaan, drainase tertutup beton permanen, digunakan sebagai tempat parkir, tertimbun material bangunan, atau tertutup lapak. Akibatnya, saluran sulit dibersihkan dan air tidak mengalir lancar. Kepentingan pribadi tidak boleh mengalahkan keselamatan publik.
Setiap pembangunan baru, baik perumahan, ruko, perkantoran, fasilitas pendidikan, maupun kawasan usaha, harus memiliki sistem drainase yang memadai. Izin pembangunan perlu memperhitungkan kapasitas saluran, arah aliran air, ruang resapan, serta dampaknya terhadap lingkungan sekitar. Jangan sampai pembangunan di satu titik justru memindahkan genangan ke titik lain.
Selain mengalirkan air, Kendari juga perlu memberi ruang bagi air untuk meresap. Sumur resapan, lubang biopori, taman lingkungan, ruang terbuka hijau, dan permukaan berpori perlu diperbanyak di rumah, sekolah, kantor, masjid, dan fasilitas publik. Semakin banyak permukaan kota tertutup beton dan aspal, semakin besar beban drainase.
Saya juga memandang penting pembentukan Satgas Drainase Kelurahan. Satgas ini dapat membantu memantau kondisi saluran, mencatat titik genangan, mengoordinasikan kerja bakti, dan melaporkan kerusakan drainase kepada pemerintah. Pemerintah dapat melengkapinya dengan layanan pengaduan cepat melalui kanal resmi, media sosial, atau aplikasi sederhana.
Air tidak perlu dilawan, air perlu diberi jalan
Semua upaya teknis akan lemah jika perilaku masyarakat tidak berubah. Membuang satu kantong sampah ke selokan mungkin terlihat kecil, tetapi ketika dilakukan berulang oleh banyak orang, dampaknya menjadi besar. Sampah menutup aliran, air tertahan, lalu genangan muncul. Karena itu, menjaga drainase adalah tanggung jawab bersama.
Hujan memang tidak dapat dihentikan, tetapi risikonya dapat dikurangi. Air tidak perlu dilawan; air hanya perlu diberi jalan. Jika drainase bersih, terbuka, cukup kapasitas, tersambung, dan didukung ruang resapan, risiko banjir dapat ditekan secara bertahap.
Pada akhirnya, kota yang maju bukan hanya kota yang membangun jalan, gedung, dan kawasan baru. Kota yang maju adalah kota yang mampu memastikan warganya aman ketika hujan turun. Dari saluran kecil di depan rumah hingga drainase utama kota, semuanya memiliki peran.
Saatnya Kendari menjadikan pembenahan drainase sebagai gerakan bersama menuju kota yang lebih tertata, nyaman, dan tangguh menghadapi banjir.(***)
Penulis adalah Mahasiswa Program Pascasarjana PPW Universitas Halu Oleo
Jangan lewatkan video populer:


Discussion about this post