Saat itu, Pangdam Jaya dijabat oleh Amir Machmud. Dalam dinamika politik Orde Baru yang tengah menguat, gedung ini kembali berpindah tangan kepada Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin.
Pada tahun itu pula, Ali Sadikin kemudian menyerahkan gedung tersebut kepada Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, yang saat itu dipimpin oleh Harmoko.
Sejak itulah, gedung ini mulai bernapas sebagai rumah bagi organisasi pers, menandai pergeseran besar dari pusat kekuasaan politik dan militer menjadi ruang perjuangan kebebasan informasi.
Perjalanan sejarahnya belum berhenti. Dalam perkembangan selanjutnya, estafet pengelolaan beralih ke SMSI. Kini, SMSI di bawah kepemimpinan Firdaus, gedung tua tersebut tetap berdiri kokoh sebagai Kantor SMSI Pusat.
Dari markas polisi rahasia kolonial, ruang konsolidasi gerakan politik, hingga menjadi pusat organisasi media siber, gedung di Jalan Veteran II No. 7C adalah saksi bisu pergulatan kekuasaan, ideologi, dan kebebasan.
Jika dahulu dindingnya menyimpan bisik-bisik strategi dan intrik, hari ini ia menjadi tempat lahirnya berita, opini, dan gagasan yang mengalir ke ruang publik.
Bagi SMSI, kantor pusat itu bukan hanya alamat. Ia adalah babad, sebuah catatan perjalanan tentang bagaimana sejarah dan masa depan dapat berdiri dalam satu bangunan yang sama.
Sejarahnya mengajarkan satu hal, bangunan boleh tetap sama, tetapi zaman dan nilai yang hidup di dalamnya terus berubah.(***)
Penulis adalah praktisi pers Sulawesi Tenggara
Jangan lewatkan video populer:


Discussion about this post