Oleh: Yanti, S. Pd
Sungguh miris melihat kondisi remaja saat ini. Itulah yang kita rasakan dengan potret-potret buram rusaknya generasi. Utamanya kenakalan remaja yang semakin merajalela dan kian meningkat.
Seperti yang diberitakan belum lama ini kasus pembunuhan. Kepolisian Resor Penajam Paser Utara (PPU) Kalimantan Timur, mengungkap kasus pembunuhan oleh seorang remaja berinisial J (16 tahun) terhadap satu keluarga berjumlah lima orang.
Diduga motif pembunuhan yang terjadi di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu karena persoalan asmara dan dendam pelaku terhadap korban. Antara pelaku dengan korban saling bertetangga (Republika, 08-02-2024).
Tak hanya menghabisi nyawa satu keluarga di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, PPU, J alias SJ, 16, seorang siswa SMK, juga menyetubuhi jasad SW, 34, istri korban Waluyo, 35, dan RJ, 15, yang tak lain adalah anak pertama Waluyo. Sebelum melakukan tindak kriminal pelaku sebelumnya pun mengkonsumsi miras (Jawapos, 08-02-2024).
Kasus tersebut tentu itu hanya secuil fakta remaja yang melakukan kriminal dan pastinya masih banyak lagi kasus-kasus yang lain yang mewarnai generasi muda saat ini. Pun ini bukan kali pertama terjadinya kasus pembunuhan yang dilakukan oleh remaja.
Kasus ini merupakan salah satu potret buram pendidikan Indonesia yang gagal mewujudkan siswa didik yang berkepribadian terpuji dan tega melakukan perbuatan sadis dan keji.
Hal itu seakan menggambarkan potret buruknya sistem pendidikan di negeri ini. Sistem pendidikan hari ini nampak dijauhkan dari agama, mulai dari pelajaran agama yang sangat sedikit waktunya dan seragam muslimah yang dipersoalkan.
Dunia pendidikan kita saat ini pun seolah hanya mengandalkan penilaian di atas kertas. Prestasi demi prestasi dibanggakan, namun jauh dari pembentukan kepribadian dan akhlak terpuji. Inilah buah dari sistem pendidikan sekuler.
Akhirnya, pelajar kian jauh dari agama. Mereka terus terdidik untuk pintar dalam akademik agar bisa menjadi individu hebat yang bekerja di tempat yang bagus, serta memiliki upah tinggi agar bisa hidup bahagia. Mereka pun tumbuh pintar tanpa disertai takwa. Dari sinilah bibit-bibit kejahatan besar ditanam. Tanpa ada rasa takut untuk berbuat maksiat.
Tak hanya sampai di situ, sejatinya remaja saat ini telah dirusak dari segala arah. Mulai dari serangan sekularisme liberal yang memisahkan peran agama dari kehidupan hingga kebebasan dalam menjalani kehidupan. Tentu, kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan tanpa batas dalam segala aspek. Termasuk aspek bertingkah laku.
Di sisi lain, derasnya informasi dari media yang seolah tak terkendali dengan konten-konten kekerasan di dalamnya, mulai dari game hingga film yang pada akhirnya mudah ditiru dalam kehidupan nyata.
Dari itu, wajar jika kerusakan pada remaja juga terus terjadi secara sistemik karena sistem yang ada baik sistem pendidikan, sistem pergaulan, dan sistem informasi tidak mendukung untuk penjagaan remaja dari kerusakan. Ditambah lemahnya sistem sanksi karena tidak mampu mencegah individu melakukan kejahatan. Hal itu, karena sanksi yang ada tak mampu membuat efek jera bagi pelaku kriminal.
Discussion about this post