Oleh: Mariana, S.Sos
Masa remaja adalah masa dimana semangat juang tumbuh, sehingga kobarannya menyala dan keinginan untuk bergerak semakin nampak. Sayangnya motivasi dan orientasinya tidak selalu tepat sasaran, ada yang bertumbuh dalam pusaran kemajuan tapi ada juga yang jumud bahkan menghancurkan semangat juang yang ada pada dirinya.
Kobarannya tidak menyentuh akal tetapi hanya menyentuh keinginan yang cenderung selalu ingin dipuaskan padahal boleh jadi manifestasinya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Sebut saja beberapa remaja yang masa tumbuh kembangnya justru melakukan perbuatan amoral contohnya razia para remaja yang melakukan kumpul kebo hingga ada diantara remaja tersebut yang mengidap HIV/AIDS, penyakit sifilis, dan penyakit kelamin lainnya, padahal usia mereka masih belasan tahun. Ada juga remaja yang masih belia terlibat dalam prostitusi online, LGBT, miras, hingga narkoba.
Ironi memang padahal masa remaja adalah masa semangat yang seharusnya manifestasinya kearah yang positif misal dalam menuntut ilmu, memahami banyak pengetahuan dan teknologi, serta dalam hal kepandaian dalam ilmu agama yang nantinya akan diterapkan dalam kehidupan.
Hanya saja yang terjadi justru sebaliknya banyak remaja meski tidak semua, terjebak pada pola perilaku dan pergaulan yang salah, menjadi sesat dan menyesatkan yang lain.
Ada yang terpengaruh dengan teman, ada yang mengejar gaya hidup serba wah, ada yang terpengaruh dari bacaan dan tontonan, atau ada juga yang hanya ingin happy fun atau mungkin dari keluarga yang kurang harmonis, banyak penyebabnya sehingga remaja ini dalam balutan dan lingkaran pergaulan yang keliru.
Sayangnya tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka secara totalitas agar meninggalkan tingkah polanya yang bodoh, sebab lagi-lagi adalah hak asasi manusia selama itu dilakukan atas dasar suka dan tidak ada yang memaksa.
Nasihat dan ajakan kebaikan tidak berfungsi maksimal sebab hukum tak memberi kesan menyentuh untuk menyadarkan para remaja ini, yang kepalang tanggung telah terjebak dalam aroma manis yang sesaat tapi menyakitkan dan menyiksa seumur hidupnya sebab beban masa depan yang harus mereka terima tentu sangat berat dengan perbuatan buruk yang mereka lakukan sewaktu muda.
Penyebab Remaja Terjebak dalam Pusaran Liberalisme
Lalu siapa yang harus disalahkan dari rusaknya moral remaja? Apakah orang tua? Memang benar bahwa keluarga dalam hal ini orang tua adalah madrasah pertama dari seorang anak, penanaman edukasi.
Sosialisasi dan afeksi itu pada awalnya diberikan keluarga dalam hal ini tentu saja orang tuanya maka keluarga itu disebut sebagai sosialisasi primer yakni sosialisasi awal dari seorang anak belajar, benteng yang membentuk karakter, mental dan pola pikir serta pola sikap dari seseorang sejak lahir ke dunia.
Kecakapan ilmu dalam mendidik yang diberikan orang tuanya akan menjadi bekal bagi seorang anak untuk tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat. Apa yang diberikan orang tuanya maka itu sangat memengaruhi apa yang dilakukan oleh sang anak dalam hidupnya.
Jika orang tuanya telah membiasakan anak untuk berbuat baik dan menjauhi perbuatan buruk, mengajarkan untuk taat pada Penciptanya dan menghindari perbuatan dosa secara terus menerus dilakukan pada sang anak maka itu akan mempengaruhi sang anak ketika dia mengambil keputusan.
Sebab pola pikirnya telah terbentuk dari hasil didikan orang tuanya dan itu akan membentuk pemahaman dalam bertingkah laku. Berbeda jika keluarganya dalam ketidakharmonisan atau sering terjadi pertengkaran, maka seorang anak tentu tidak akan tenang.
Ibaratnya rumahku surgaku, tapi jika rumah seperti neraka tidak ada keharmonisan. Kata-kata kasar sering terlontar atau bahkan anak sering di bullying, dilecehkan secara verbal, dikasari, dipukul maka pelampiasannya adalah anak mencari afeksi diluar dan boleh jadi pelariannya adalah clubbing, rokok, miras, narkoba, atau pergaulan bebas serta prostitusi.
Tapi menyalahkan semua pada orang tua tentu tidak bijak sebab banyak hal yang berpeluang memengaruhi mental remaja, diantaranya adalah tontonan. Banyak fakta yang membuktikan bahwa tontonan kadang menjadi pengasuh dan tuntunan paling efektif dalam memberikan pendidikan pada anak.
Apabila stimulus yang diberikan dari hasil bacaan atau tontonan memberikan efek positif untuk tumbuh kembangnya otak anak, maka akan memengaruhi kualitas pemahaman dan perilaku anak menjadi positif.
Namun jika keburukan secara terus menerus yang ditonton maka akan memengaruhi kualitas pemikiran dan perilaku anak menjadi buruk. Apalagi remaja yang keinginan untuk mencobanya sangat besar, dan efek yang ditimbulkan adalah agresif atau insecure.
Sebagai contoh remaja yang secara terus menerus menonton tayangan yang berbau porno, maka ini akan memengaruhi kecenderungan dia untuk memenuhi hasrat seksualnya. Sebab otaknya telah kebanjiran dopamin yang menimbulkan rasa senang dan akhirnya berhalusinasi.
Ketika ada hasrat untuk melampiaskan, pada akhirnya menjamurlah perilaku bejat, misalnya pelecahan, gaul bebas, kumpul kebo, prostitusi online hingga LGBT. Karena tontonan sangat besar pengaruhnya dalam tumbuh kembangnya kepribadian anak.
Dapat dibayangkan bagaimana rusaknya mental anak jika tiap hari yang dilakukan hanya menonton tayangan yang tidak mendidik misal tayangan pornografi. Sementara jika hormon libidonya meningkat dan tidak ada pelampiasan maka yang terjadi adalah tindakan amoral.
Discussion about this post