PENASULTRAID, KONAWE SELATAN – Di bilangan Jalan Kendari–Pelabuhan Amolengu Kolono Utara, tepatnya di Desa Wawatu, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) berdiri sebuah rumah ibadah yang tak hanya memanggil orang untuk salat, tetapi juga mengundang hati untuk merenung. Namanya Masjid Al-Ilham.
Bagi sebagian orang, Al-Ilham bermakna ilham dari bahasa Arab petunjuk yang dibisikkan Allah ke dalam hati hamba-Nya. Namun bagi dua sahabat yang membidani pembangunannya, nama itu juga adalah akronim dari dua nama yang tak terpisahkan dalam suka dan duka: Irham Kalenggo (Bupati Konsel) dan Hamrin (Ketua DPRD Konsel).
Masjid itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah pengabdian, persaudaraan, dan cinta seorang anak kepada ibunya.
Di bulan Ramadan yang hening, Hamrin berdiri memandangi saf-saf yang mulai terisi jelang tarawih. Suaranya tenang ketika mengisahkan awal mula masjid itu berdiri.
“Apa yang kita cari dalam hidup ini kalau bukan untuk memperbanyak ibadah? Jabatan yang saya miliki ini kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat,” ucapnya lirih.
Ia mengaku, setiap kali hendak duduk di kursi DPRD, ada satu kebiasaan yang tak pernah ia tinggalkan.
“Kalau saya mau duduk di kursi DPRD, selalu saya istighfar dulu. Itulah pengingat saya agar diberi jalan petunjuk oleh Allah Taala,” ujarnya.
Bagi Hamrin, politik bukanlah sekadar ruang kekuasaan. Ia menyebut substansi politik adalah menghadirkan kemaslahatan bersama.
“Politik itu jalan untuk memberi manfaat bagi orang banyak, bukan untuk kekuasaan semata. Kalau tidak membawa kebaikan, untuk apa?” tegasnya.
Permintaan Terakhir Sang Ibunda
Yang paling menyentuh adalah kisah di balik air mata. Jauh sebelum masjid ini rampung, almarhumah ibunda Hamrin pernah menyampaikan satu harapan sederhana namun dalam.
Ia ingin, ketika ajal menjemput, disalatkan di masjid yang dibangun anaknya.
Permintaan itu menjadi bara yang menguatkan tekad. Masjid Al-Ilham akhirnya berdiri megah menjadi hadiah terindah bagi seorang ibu yang lama merindukan memiliki masjid yang indah di kampungnya.
“Itu hadiah terindah untuk almarhumah ibu saya. Impian beliau sederhana, tapi maknanya luar biasa bagi saya,” kenang Hamrin dengan mata berkaca-kaca.
Di sanalah, doa-doa dipanjatkan. Di sanalah, air mata jatuh. Dan di sanalah pula, seorang anak menunaikan bakti terakhirnya.
Persaudaraan yang Tak Pernah Lepas
Nama Al-Ilham juga menjadi simbol pengabdian persaudaraan. Hamrin dan Irham Kalenggo berjalan bersama dalam banyak fase kehidupan bukan terlahir dari rahim yang sama, tetapi diikat oleh cita-cita dan perjuangan.
Pengabadian nama itu menjadi penegasan bahwa persaudaraan tak harus sedarah untuk menjadi sejiwa.


Discussion about this post