PENASULTRAID, KONAWE SELATAN — Di jantung wilayah Kecamatan Andoolo, berdiri sebuah desa yang tidak hanya tumbuh secara fisik, tetapi juga bertransformasi secara sistematis menuju tata kelola modern berbasis data.
Desa Wunduwatu, yang resmi terbentuk pada 25 April 1997 sebagai hasil pemekaran dari desa induk, kini menjelma menjadi representasi desa progresif di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Sejak awal berdirinya, Wunduwatu dikenal sebagai wilayah dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Sektor pertanian, perkebunan, hingga peternakan menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Namun, yang membedakan desa ini adalah cara mengelola potensi tersebut yakni melalui pendekatan berbasis data dan teknologi.
Transformasi besar desa ini ditandai dengan hadirnya Rumah Data Desa Terpadu, sebuah pusat informasi yang tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga mengintegrasikannya sebagai dasar kebijakan pembangunan.
Kepala Desa Wunduwatu, Irwansyah menegaskan bahwa langkah ini merupakan komitmen pemerintah desa untuk menghadirkan pelayanan publik yang lebih presisi dan akuntabel.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil benar-benar berbasis data, bukan asumsi. Rumah Data Desa menjadi jantung perencanaan pembangunan kami, sehingga pelayanan kepada masyarakat semakin tepat sasaran,” ujarnya baru-baru ini.
Rumah Data Desa yang terletak strategis di tengah desa ini menjadi simpul konektivitas antara kebutuhan masyarakat dan arah kebijakan pemerintah. Data yang sebelumnya tersebar kini dihimpun secara terstruktur, terintegrasi, dan terkoneksi hingga ke tingkat kabupaten bahkan provinsi secara digital.
Sekretaris Desa Wunduwatu, Ade Herianto menjelaskan bahwa sistem ini telah mengubah cara kerja pemerintahan desa secara signifikan.
“Dengan sistem digital berbasis data, pelayanan administrasi seperti KTP, KK, akta kelahiran hingga kematian kini terintegrasi dalam satu pintu layanan. Ini membuat proses lebih cepat, transparan, dan efisien,” jelasnya.
Ketua BPD Wunduwatu, Rosikin turut mengapresiasi inovasi tersebut. Ia menilai bahwa kehadiran Rumah Data Desa mampu menyatukan persepsi antar lembaga desa dalam menjalankan program pembangunan.
“Seluruh kebijakan kini berpijak pada satu sumber data yang sama. Ini menghilangkan perbedaan pandangan dan meningkatkan konsistensi program pembangunan desa,” ungkapnya.
Dalam sektor kesehatan, pendekatan pelayanan juga mengalami pergeseran dari pola reaktif menjadi preventif berbasis data. Melalui sistem ini, pemerintah desa mampu melakukan pemetaan kondisi masyarakat secara menyeluruh, mulai dari usia, wilayah, hingga latar belakang sosial ekonomi.
Program strategis seperti deteksi dini penyakit, pemantauan ibu hamil, penanganan stunting, hingga pemeriksaan kesehatan gratis dilakukan secara terarah dan berkelanjutan.


Discussion about this post