PENASULTRAID, KONAWE SELATAN – Di salah satu desa di Kecamatan Wolasi, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) nampak seorang gadis kecil berusia tujuh tahun sedang bermain dan mewarnai gambar seperti anak-anak seusianya ditemani oleh para pendamping dari dinas terkait.
Sesekali ia tersenyum dan bercanda, berlari kecil, lalu kembali memeluk dan menuju ke seorang ibu yang dipanggilnya kakak kadis. Dari luar, tidak ada yang tampak berbeda.
Namun di balik senyum polos yang masih menghiasi wajahnya, tersimpan peristiwa yang mengguncang kehidupan seorang anak yang seharusnya hanya mengenal dunia bermain dan belajar.
Sebut saja Bunga, nama gadis cantik itu. Tahun ini ia bersiap memasuki bangku sekolah dasar. Selama ini, Bunga tinggal bersama kakek dan neneknya karena ibunya bekerja di Kota Kendari untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sedangkan ayah kandungnya sudah lama meninggalkannya sehingga, Bunga bersama sang adik kehilangan kasih sayang dari seorang ayah.
Tak ada yang menyangka, tempat yang selama ini dianggap sebagai ruang paling aman bagi seorang anak justru menjadi lokasi terjadinya dugaan perbuatan tidak pantas yang kini sedang diproses secara hukum.
Menurut keterangan keluarga, sekira sepekan lalu Bunga sedang berbaring di depan televisi di rumah kakeknya. Saat itulah sang kakek diduga mendekati korban dan melakukan tindakan yang tidak semestinya terhadap cucunya.
Peristiwa tersebut diketahui langsung oleh nenek korban yang memergoki kejadian itu. Dalam kondisi syok dan menangis, sang nenek segera menggendong cucunya keluar rumah dan membawanya ke rumah tetangga untuk diamankan. Bagi sang nenek, apa yang dilihatnya hari itu menjadi pemandangan yang sulit dilupakan.
Meski demikian, kondisi Bunga sendiri tampak berbeda dari anak sebaya yang berada di sekelilingnya. Anak kecil itu masih terlihat menjalani aktivitas seperti biasa. Saat ditanya oleh ibunya, ia mengaku tidak merasakan sakit pada bagian tubuhnya dan keluarga juga tidak menemukan adanya luka yang tampak secara kasat mata.
Namun trauma pada anak tidak selalu terlihat. Kadang luka terbesar bukan berada pada tubuh, melainkan tersimpan dalam ingatan dan perasaan yang belum mampu diungkapkan oleh seorang anak berusia tujuh tahun.
M, ibu korban mengaku putrinya kini cenderung enggan berinteraksi dengan orang yang baru dikenalnya. Bahkan ketika hendak didokumentasikan, Bunga menolak.
“Menurut saya, dia mungkin mengira orang-orang baru yang datang akan membawanya untuk divisum. Jadi dia sering takut ketika bertemu orang yang belum dikenal,” ungkapnya.
Atas apa yang dialami Bunga dengan kondisinya tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).
Kepala DP3A Konsel, St. Hafsa mengatakan, pihaknya telah beberapa kali melakukan kunjungan langsung ke rumah korban untuk memastikan kondisi psikologis anak tetap terpantau.
“Kami sudah tiga kali datang secara khusus menemui korban. Kami memberikan pendampingan, bantuan makanan, susu, dan terus memantau perkembangan psikologis anak. Yang terpenting saat ini adalah memastikan anak merasa aman dan mendapatkan dukungan penuh dari lingkungan sekitarnya,” ujarnya.


Discussion about this post