“Agar tidak pernah lepas dari persaudaraan walau terlahir bukan serahim,” tutur Hamrin.
Masjid ini menjadi saksi bahwa kebersamaan bisa melahirkan karya yang melampaui kepentingan pribadi.
Dapur Umum untuk Semua
Namun impian belum berhenti di kubah dan menara. Di samping masjid, Hamrin membayangkan berdiri dapur umum yang terbuka untuk siapa saja.
“Impian saya selanjutnya, di samping masjid ini ada dapur umum yang bisa menggratiskan makan semua orang tanpa pandang suku dan agama,” tuturnya.
Hamrin percaya, rumah ibadah bukan hanya tempat sujud, tetapi juga pusat kepedulian sosial. Baginya, harta bukanlah yang tersimpan rapi di rekening.
“Harta sesungguhnya adalah yang kita gunakan untuk beramal. Sementara yang tersimpan di bank, belum tentu itu benar-benar milik kita,” ucapnya.
Pelajaran dari Kedukaan
Hamrin juga mengaku selalu berusaha hadir dalam setiap momen kedukaan warganya.
“Saya selalu berupaya datang pada momen kedukaan, karena di situ ada pelajaran bagi saya bahwa kita semua akan mati,” katanya.
Ramadan, kata Hamrin, adalah waktu terbaik untuk menyadari kefanaan itu. Bahwa jabatan akan berakhir, kekuasaan akan berganti, tetapi amal akan menetap.
Oase yang Menghidupkan Harapan
Di Desa Wawatu, Masjid Al-Ilham kini bukan hanya tempat ibadah. Ia adalah oase Ramadan tempat orang-orang menemukan kembali makna hidup, arti persaudaraan, dan nilai keikhlasan.
Dari jalan poros Kendari–Amolengu, kubahnya tampak sederhana namun anggun. Setiap azan yang berkumandang mengingatkan satu hal: hidup bukan tentang seberapa lama kita berkuasa, tetapi seberapa banyak kita memberi.
Dan di antara saf-saf yang rapat itu, terselip satu pesan yang terus bergema: Bahwa pada akhirnya, yang kita bawa pulang bukanlah jabatan, bukan pula kekayaan melainkan doa, amal, dan jejak kebaikan yang kita tinggalkan.
Penulis: Pyan
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:


Discussion about this post