PENASULTRAID, JAKARTA – Unit musik Sadcore/folk asal Jakarta, Mantra Angin, resmi memulai perjalanannya dengan merilis single perdana bertajuk “Sampai Gelap Mengepung” pada 4 Maret 2026. Lagu ini menjadi pijakan awal atas arah musik dan gagasan yang ingin mereka usung ke depan.
Terbentuk pada Agustus 2025, Mantra Angin lahir dari keinginan untuk merespons kegelisahan yang terasa dekat dengan keseharian.
“Semoga ini menjadi jalan penyerahan kami menuju temuan-temuan baru. Yang bisa berupa teman baru, atau jalan tikus baru yang memberi gairah lebih kuat untuk mencari jalan keluar, atau sekadar tempat istirahat di tengah banyak hal yang tidak menentu: musim, pekerjaan, negara, diri sendiri,” kata vokalis sekaligus gitaris Huda R Alam dalam keterangannya, Jumat 6 Maret 2026.
Secara musikal, “Sampai Gelap Mengepung” dibangun di atas fondasi folk yang intim dengan aransemen
minimalis—gitar akustik yang menjadi tulang punggung melodi oleh Huda, permainan bas dari Fernando Oktora yang tertahan namun menghanyutkan, sentuhan piano M. Iqbal yang menyiratkan ruang, serta harmoni vokal ganda Huda dan Genevieve Ribka Wowor yang saling berkelindan.
Pendekatan ini secara sadar merujuk pada tradisi slowcore dan sadcore yang berkembang di era 1990-an, terutama dari kelompok-kelompok seperti Bedhead dengan dinamika gitarnya yang rumit namun sunyi, Low dengan minimalisme spiritual dan permainan vokal yang menghantui, serta Mojave 3 yang meramu unsur folk, country dan reverb dreamy dengan vibe melankolia pedesaan.
Dari mereka, Mantra Angin mewarisi
keyakinan bahwa ruang dan keheningan dapat berbicara sekeras distorsi, bahwa tempo yang lambat justru memberi bobot lebih pada setiap kata yang dilantunkan.
Secara konseptual, “Sampai Gelap Mengepung” terinspirasi dari suasana distopia—gambaran tentang dunia yang terasa menekan, repetitif, dan penuh ketidakpastian. Lagu ini ditulis sebagai salah satu cara untuk merespons ketakutan sosial yang dirasakan hari ini.
“Tempat kami berusaha melupakan mimpi, melupakan ketakutan dari berbagai bentuk yang menggebu. Sampai mungkin, Mantra Angin turut menjadi mimpi itu sendiri, lalu menjadi ketakutan itu sendiri,” terang Huda.


Discussion about this post