Sesi paling mengharukan terjadi saat Vicky diajak belajar Surat Al-Fatihah dengan bahasa isyarat. Satu per satu gerakan ia ikuti. Jari-jarinya kaku, beberapa kali salah, lalu tertawa kecil bersama para guru dan adik-adik santri yang sabar mengajari.
“Aku baru paham, belajar Alqur’an buat mereka itu perjuangan fisik dan hati. Gerakan tangan harus tepat, ekspresi wajah harus ikut, karena itu bagian dari ‘tajwid’ mereka. MasyaAllah,” tutur Vicky.
Pengalaman itulah yang membuatnya mantap berkolaborasi dengan Laznas PPPA Daarul Qur’an. Vicky mendukung penuh campaign untuk menghadirkan lebih banyak guru ngaji isyarat, mushaf khusus, dan beasiswa penghafal Alqur’an bagi sahabat disabilitas.
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alqur’an dan mengajarkannya.” HR. Bukhari. Hadits ini, kata Vicky, menjadi pengingat bahwa “mengajarkan” bisa dimulai dari memfasilitasi mereka yang ingin belajar tapi terhalang akses.
“Aku ingin, adik-adik ini bisa punya kesempatan yang sama untuk belajar dan membaca Alqur’an. Dan kita semua bisa jadi jalannya,” kata Vicky.
Melalui kolaborasi ini, Vicky Shu dan Laznas PPPA Daarul Qur’an mengajak masyarakat untuk ikut menjadi bagian dari gerakan #CahayaUntukHatiIstimewa. Karena dari setiap Alqur’an isyarat dan braille yang mereka baca, ada pahala yang akan terus mengalir untuk siapa pun yang memudahkannya.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:


Discussion about this post