Penyebabnya bukan semata kapasitas kampus, melainkan pola pilihan keluarga kelas menengah atas Sumatera Utara yang secara kultural masih mengarahkan anak mereka ke Jawa, Malaysia, bahkan Singapura.
“Orang Sumatera Utara kelas menengah ke atas itu tidak mau anaknya kuliah di Medan. Anaknya kuliah ke Jawa, ke Bandung, ke Jakarta, ke Jogja, Surabaya. Termasuk saya — dua anak saya tidak kuliah di Medan. Yang paling besar di Malaysia dulu S1-nya, yang kedua di Jogja,” akunya dengan terbuka, disambut tawa peserta.
Ia menyampaikan kondisi itu langsung ke kementerian sebagai realita yang perlu direspons dengan kebijakan, bukan diabaikan. Solusinya satu: kualitas kampus Sumatera Utara harus terus didorong hingga menjadi pilihan pertama, bukan pilihan terakhir.
Keunggulan Kampus Swasta: Hadir Sampai Pelosok Kabupaten
Prof. Saiful Anwar menyoroti keunggulan strategis PTS Sumatera Utara yang tidak dimiliki PTN: jangkauan geografis hingga ke kabupaten-kabupaten terpencil.
Sementara PTN mayoritas terkonsentrasi di Medan, PTS tersebar hingga Nias Selatan dan Mandailing Natal — menjangkau anak-anak bangsa yang tidak memiliki akses ke kota besar.
“Kalau PTN dia semuanya hampir di Medan. Tapi kita ada di Nias Selatan, ada di Mandailing Natal. Jadi anak-anak bangsa yang di kabupaten kota itu bisa mengenyam pendidikan karena kita ada di kabupaten,” jelasnya.
Inilah yang ia maksud dengan makna inklusif dalam tema Rakerwil tahun ini: “Pendidikan Tinggi Inklusif, Adaptif, dan Berdampak Menuju Indonesia Emas 2045.” Inklusif bukan hanya soal keterjangkauan biaya, tetapi soal keterjangkauan jarak — dari desa hingga kota, seluruh anak bangsa harus bisa masuk perguruan tinggi.
Rakerwil LLDIKTI Wilayah I 2026 berlangsung dua hari, Kamis–Jumat, 9–10 April 2026, mulai pukul 09.00 WIB, dengan puncak acara berupa Penyerahan Anugerah LLDIKTI Wilayah I Tahun 2025 pada hari kedua.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:


Discussion about this post