Proses pembuatan lagu dimulai dari sekitar awal 2025 dengan mengumpulkan materi hingga digarap bersama. Perekaman pertama dimulai dari Mei 2025 di Haum Studio dioperatori oleh Dheka (Dugong Masurai) dan Axel (Masurai) hingga Q4 2025.
Proses perekaman dilakukan secara berangsur dan bertahap, lalu pada track terakhir, Memoria Acoustic ver, direkam di RA2 Studio dioperatori oleh Rio Armand. Mixing dan mastering juga dikerjakan oleh Rio Armand. Lalu 2 single sebelumnya yang telah rilis duluan, Flustered dan Slice of Life ikut disertakan ke dalam album ini.
Sepanjang 2025 mereka berenam bersama Nayya, sang manajer, dan Danang berjibaku dengan penggarapan album, track demi track disambi menghadapi kehidupan perkuliahan, keluarga, asmara, hingga yang lainnya. Meski dihantam oleh polemik masing-masing, mereka memiliki satu visi dan tanggungan yang senantiasa menanti hingga terbentuk seutuhnya album ini.
Album ini tak hanya menjadi jerih payah mereka, namun juga merangkum perjalanan mereka yang kian tahun kian tidak terprediksi menghadapi pendewasaan.
Setelah menyiapkan proses panjang untuk perilisan dan menyediakan aset visual sejak November 2025 bersama Batas Frekuensi, Lucien Sunmoon tengah menyiapkan rilisan fisik yang digarap oleh Haum Entertainment berupa kaset pita yang nantinya akan dibundling bersama buku “Nothing Blooms at Midnight: a Visual Guide” yang ditulis oleh Sukma Kelana melalui Batas Frekuensi beserta merch lainnya.
Tak berhenti di situ, Batas Frekuensi juga tengah menyiapkan 4 Music Video untuk Lucien Sunmoon yang direncanakan akan rilis akhir Maret mendatang setelah menghabiskan sebulan penuh untuk melakukan proses shooting dan produksi. “Nothing Blooms at Midnight” sudah dapat dinikmati di seluruh DSP sejak 14 Februari 2026 lalu.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:


Discussion about this post