Di 2026 ini, pengembangan diarahkan pada beberapa komoditas unggulan, seperti kakao seluas 6.000 hektare, kelapa dalam 5.000 hektare, jambu mete 1.200 hektare, pala 400 hektare, dan lada 200 hektare.
“Diversifikasi komoditas menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi petani. Kita tidak bisa hanya bergantung pada satu sektor saja,” jelas Irham.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, terutama terkait luasan lahan efektif dan sistem pengairan. Pemerintah daerah memastikan akan terus melakukan intervensi kebijakan secara bertahap dengan dukungan lintas sektor, termasuk lembaga seperti Bulog dan BPS.
Di sisi lain, kawasan persawahan Potoro seluas 116 hektare juga diproyeksikan menjadi kawasan agrowisata, yang diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru berbasis pertanian.
Panen raya di Potoro menjadi lebih dari sekadar hasil musim tanam. Ia mencerminkan konsistensi kebijakan, kekuatan kolaborasi, serta optimisme daerah.
Dengan tren produksi yang terus meningkat, ekspansi lahan, pemanfaatan teknologi, dan keterlibatan aktif petani, Konawe Selatan berada di jalur yang realistis untuk menjadi salah satu lumbung pangan strategis di Indonesia.
Jika konsistensi ini terus terjaga, swasembada pangan bukan lagi sekadar target jangka panjang, melainkan visi yang semakin nyata di depan mata.
Penulis: Pyan
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:
https://youtu.be/4hKHtkRSW_U?si=-HFSzOwpz55QDzdh


Discussion about this post