“BoP hanyalah cara Trump dan Netanyahu mengamankan hasil genosida dan melanggengkan kolonialisme di bumi Palestina,” tegas Furqan.
Sementara itu, Ketua Dewan Pakar FPN, Dr. Dina Sulaeman dalam orasinya menyoroti kronologi manipulasi proses perdamaian.
Ia mengungkapkan bahwa Trump sebelumnya mengajukan 20 poin gencatan senjata yang dinilai tidak adil karena tanpa sanksi bagi Israel dan justru menuntut pelucutan senjata pejuang Palestina.
Menurut Dina, narasi bahwa dana sekitar Rp17 triliun digunakan untuk rekonstruksi Gaza patut dipertanyakan. Ia menyebut bahwa berdasarkan aturan BoP, dana tersebut merupakan biaya keanggotaan politik, bukan mekanisme kemanusiaan.
“Apakah rakyat Gaza akan menikmati hasil pembangunan itu, atau justru akan disingkirkan dan dijadikan buruh murah, sementara mereka dipindahkan ke kamp Rafah yang diberi label ‘kota kemanusiaan’,” ujar Dina.
“Ini bukan rekonstruksi. Ini kolonialisme dengan wajah baru,” tegas Dina.
Dina juga mengkritik keras narasi kebijakan luar negeri Indonesia yang dibungkus dalam istilah “netral” dan “realistis”.
Menurutnya, netralitas dalam konflik antara penjajah dan yang dijajah bukanlah solusi, melainkan bentuk pembungkaman terhadap suara rakyat tertindas.
“Pemerintah Indonesia harus menarik diri dari forum internasional yang melemahkan perjuangan kemerdekaan Palestina,” pungkas Dina.
Aksi solidaritas tersebut ditutup dengan seruan bersama dari massa FPN untuk menolak Board of Peace Trump, membela Palestina, serta menegaskan kembali komitmen terhadap Hak Asasi Manusia dan keadilan sejati.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:


Discussion about this post