PENASULTRAID, JAKARTA – Saat ini, sebagian besar konsumen secara aktif menerapkan hidup berkelanjutan (sustainable living) dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Pergeseran menuju gaya hidup ramah lingkungan ini telah menjadi arus utama, dengan individu semakin memprioritaskan kesehatan lingkungan jangka panjang daripada kenyamanan jangka pendek. Namun, terlepas dari transisi hijau ini, plastik tetap menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari karena kebutuhan fungsionalnya.
Ketergantungan ini ditantang oleh lonjakan harga plastik baru-baru ini, yang dipicu oleh melonjaknya biaya bahan bakar akibat konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Jakpat melakukan survei untuk mendalami tren gaya hidup berkelanjutan sekaligus memotret respons publik terhadap kenaikan harga plastik. Laporan ini merangkum perspektif dari 1373 responden mengenai pergeseran pola konsumsi mereka.
Menariknya, meskipun hanya 87% responden yang mengaku paham secara teoritis, nyatanya hampir seluruh peserta (97%) sudah mempraktikkan sustainable living, baik secara sadar maupun tidak.
Antusiasme ini diprediksi akan terus tumbuh, mengingat 4 dari 5 responden menyatakan komitmen mereka untuk menerapkan pola hidup ini di masa depan.
Lebih dari Tren
Dalam praktiknya, mematikan lampu dan perangkat elektronik saat tidak digunakan menjadi aksi sustainable living yang paling populer (68%). Kesadaran untuk meminimalisir limbah juga mulai mendarah daging; setengah dari responden telah terbiasa membawa peralatan makan (botol minum, tempat makan, dan alat makan) serta tas belanja sendiri.
Selain itu, 1 dari 2 orang memilih untuk berjalan kaki atau bersepeda saat menempuh jarak dekat, dan 44% lainnya aktif melakukan penghematan air bersih. Motivasi untuk menerapkan sustainable living beragam.
Sebanyak 65% responden tergerak untuk menjaga kelestarian bumi melalui pengurangan sampah. Lalu, alasan praktis seperti mengurangi penumpukan barang di rumah serta efisiensi pengeluaran bulanan turut menjadi pendorong utama dengan persentase masing-masing 53%.
Motivasi emosional pun muncul, di mana 50% responden ingin mewariskan lingkungan sehat bagi generasi mendatang, dan 46% merasa bangga dapat berkontribusi langsung pada kebersihan lingkungan.
“Kami melihat bahwa sustainable living kini sudah menjadi kebiasaan lintas generasi, bukan lagi sekadar tren,” ucap Lead Researcher Jakpat, Farida Hasna dalam keterangannya, Selasa 19 Mei 2026.
Ia melanjutkan, jika ditelusuri lebih dalam, Gen Z muncul sebagai penggerak utama dengan pemahaman dan motivasi yang lebih kuat, terutama dari sisi personal seperti rasa bangga dalam berkontribusi terhadap lingkungan.


Discussion about this post