PENASULTRAID, MAKASSAR – Sejumlah anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang masih aktif berdinas di Polda Sulsel bergabung mendirikan pondok pesantren (Ponpes) penghafal Alquran dan Hadits gratis yang diutamakan bagi warga kurang mampu di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dan sekitarnya.
Ponpes yang bernaung di bawah Yayasan Media Dakwah Sunnah Makassar (MDSM) ini merupakan yayasan Islam yang dibentuk dan dinotariskan pada 28 Juli 2021.
Yayasan ini mempunyai visi dan misi serta bertujuan menyediakan pendidikan yang Islami dengan konsep pendidikan terpadu (Tahfidzul Qur’an).
“Kami mendirikan pondok pesantren penghafal Alquran ini gratis bagi santri di kalangan tidak mampu. Dalam operasinya, kami juga bekerja sama dengan sekolah formal untuk para santri mendapatkan ijazah sekolah,” ungkap Ketua Yayasan MDSM, Andi Burhanuddin Achmad dalam keterangannya, Minggu 5 April 2026.
Burhanuddin mengungkapkan bahwa pendirian Ponpes yang telah menelorkan sejumlah alumni ini berawal dari rasa kepedulian dan keprihatinan para pendiri terhadap kondisi anak yatim dan duafa muslim yang putus sekolah khususnya di wilayah kota Makassar dan sekitarnya.
Yang mana di satu sisi, kehidupan anak yatim dan duafa muslim yang putus sekolah sudah terpengaruh dengan budaya konsumtif dan pada sisi yang lain perhatian mereka terhadap pendidikan masih minim khususnya pendidikan Islam.
Berkat ketekunan dan dedikasi, para pendiri kemudian mendapatkan gedung wakaf dari seorang dermawan di kawasan timur Kota Makassar tepatnya di Perum. Buntusu Permai Blok B1 No. 5 (BTP Tamalanrea) yang selanjutnya menjadi sentral pendidikan Yayasan MDSM hingga saat ini.
“Kami juga sebenarnya berkeinginan memiliki lokasi sendiri, maka dari itu pengurus yayasan melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung di akhirat, Aamiin,” tutur Burhanuddin.
Saat ini, yayasan tengah mengasuh santri putra sebanyak 38 orang dan putri 18 orang. Program kerja dan aktivitas yayasan pun dilakukan seirama dengan tuntutan steak holder sehingga dapat memberi manfaat, motivasi dan prestasi para santri.
“Kami berharap dapat mewujudkan suatu wadah pendidikan yang berkonsepkan Islam dalam hal ini Tahfidzul Qur’an, dapat menyantuni anak-anak yatim/piatu dan tidak mampu (dhuafa) sekaligus dapat dijadikan tempat penggemblengan generasi muda yang Islami dan madani yang mempunyai keimanan dan ketaqwaan yang tinggi berguna bagi agama, negara dan bangsa serta masa depannya sendiri,” papar Burhanuddin.
Ide untuk mendirikan yayasan yang menaungi anak-anak penghafal Alquran dan Hadits ini memang muncul dari sebuah perkumpulan pengajian beberapa anggota Polri. Mereka berkeinginan untuk memberikan wadah yang lebih formal dan berkelanjutan bagi anak-anak yang ingin menghafal Alquran dan Hadits.
Ini adalah langkah positif untuk mewujudkan visi bersama dalam mendukung dan memfasilitasi hafalan Alquran dan Hadits bagi anak-anak yang utamanya dari kalangan anak-anak yatim/piatu dan tidak mampu (dhuafa).
Dengan mendukung anak-anak penghafal Alquran dan Hadits, wadah ini akan memiliki banyak manfaat, baik bagi individu maupun masyarakat. Sebab, dengan menghafal Alquran dan Hadits dapat meningkatkan kecerdasan spiritual, moral, dan kognitif anak.



Discussion about this post