“Wisata adalah kebutuhan, tapi jangan sampai mengabaikan nilai-nilai Islami. Dunia ini fana, akhirat kekal. Mari beralih ke konsep syariah travel,” beber Prof. Samdin.
Sementara itu, Konten Kreator Pariwisata Muslim, Indira berbagi pandangan dari sisi wisatawan. Ia menyebutkan ada tiga aspek utama yang dicari saat melakukan perjalanan, yakni experience (pengalaman), value (nilai), dan accessibility (aksesibilitas).
Indira menegaskan bahwa konsep pariwisata halal bukanlah penghambat bagi wisatawan untuk menikmati perkembangan zaman.
“Halal travel bukan sebuah batasan. Bukan berarti kita menolak globalisasi dengan adanya travel muslim ini. Mari mengeksplorasi dunia tanpa kehilangan nilai-nilai yang kita miliki,” beber Indira.
Ditempat yang sama, Konten Kreator Pariwisata Muslim, Bagiro menekankan pentingnya sinergi antara pariwisata ramah muslim dan strategi promosi digital di platform media sosial seperti TikTok.
“Pariwisata halal adalah tentang rasa aman saat mengonsumsi kuliner dan kemudahan dalam beribadah. Ini adalah tentang bagaimana kita menikmati perjalanan tanpa harus meninggalkan nilai-nilai yang kita pegang,” beber Bagiro.
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan literasi masyarakat Sultra mengenai ekosistem gaya hidup halal, khususnya di sektor pariwisata yang tengah berkembang pesat di Bumi Anoa.
Penulis: Yeni Marinda
Jangan lewatkan video populer:


Discussion about this post