PENASULTRA.ID, KENDARI – Tren gaya hidup halal kini bukan sekadar label religi, melainkan peluang besar bagi masa depan pariwisata di Sulawesi Tenggara (Sultra).
Hal ini ditegaskan oleh konten kreator pariwisata lokal, Bagiro dalam Talkshow bertajuk “Travel, Halal, and Repeat” yang digelar oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sultra.
Kegiatan yang menjadi rangkaian Sultra Maimo Sharia Fest ini dilaksanakan dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Provinsi Sultra di Lippo Plaza Kendari pada Jumat 24 April 2026.
Dalam paparannya, Ilham menekankan pentingnya sinergi antara pariwisata ramah muslim dan strategi promosi digital di platform media sosial seperti TikTok.
“Pariwisata halal adalah tentang rasa aman saat mengonsumsi kuliner dan kemudahan dalam beribadah. Ini adalah tentang bagaimana kita menikmati perjalanan tanpa harus meninggalkan nilai-nilai yang kita pegang,” kata Bagiro.
Menurutnya, tantangan terbesar pariwisata di Sultra saat ini bukanlah kurangnya destinasi yang indah, melainkan minimnya eksposur digital. Ia menyebut bahwa di era saat ini, eksistensi sebuah destinasi tidak lagi ditentukan hanya oleh lokasi fisik, tetapi oleh narasi yang dibangun di media sosial.
“Kalau sebuah destinasi tidak viral atau tidak muncul di konten, perlahan tempat itu akan hilang dari radar calon wisatawan. Bukan karena tempatnya tidak menarik, tapi karena tidak ada yang menceritakannya,” beber Bagiro.
Namun, ia mengingatkan bahwa menjadi viral saja tidaklah cukup. Baginya, viral hanya berfungsi menarik perhatian sesaat agar orang berhenti menggulir (scrolling) layar ponsel. Faktor penentu yang membuat wisatawan benar-benar datang adalah kepercayaan (trust).


Discussion about this post