Di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan produktivitas, Gen Z menunjukkan sikap yang lebih terbuka terkait kesehatan mental.
Hampir setengah dari mereka yang mengalami gangguan kesehatan mental menyatakan percaya pada layanan profesional, seperti konsultasi, terapi, hingga pengobatan, untuk membantu pemulihan kondisi emosional mereka.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung menutup diri, menurut Aska, Gen Z sangat terbuka dalam mengakui kerentanan emosional dan memandangnya sebagai bagian integral dari kesehatan secara keseluruhan.
“Kesadaran ini mendorong mereka untuk lebih proaktif mencari bantuan profesional, mulai dari konseling lewat aplikasi kesehatan hingga terapi tatap muka,” jelas Aska.
Pemicu gangguan kesehatan mental di kalangan Gen Z sebagian besar berkaitan dengan kekhawatiran akan masa depan (60%). Selain itu, ada pula faktor tekanan finansial (57%), tuntutan sosial atau ekspektasi orang lain (42%), serta rasa tidak berdaya dalam menghadapi situasi yang tidak dapat mereka kendalikan (36%).
Adapun bentuk gangguan yang paling sering dialami yaitu mood swing (62%), masalah tidur baik sulit tidur atau tidur berlebihan (50%), kecemasan berlebih (38%), dan kesulitan mengatur emosi (38%).
Meski demikian, Aska menegaskan bahwa Gen Z adalah generasi yang paling rentan secara ekonomi formal, namun justru paling tangguh secara emosional.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:


Discussion about this post