Sementara itu, Founder & President Naturevolution, Evrard Wendenbaum memaparkan data yang mengkhawatirkan terkait kondisi hutan Sulawesi.
Organisasi nonpemerintah asal Prancis ini telah mengeksplorasi Pegunungan Matarombeo sejak 2012 dan menyebutnya sebagai unit hutan hujan primer terbesar yang tersisa di Pulau Sulawesi.
“Kami menemukan spesies fauna endemik yang rentan punah, sistem gua karst raksasa, hingga lukisan gua prasejarah yang membuktikan adanya aktivitas manusia purba di sana,” beber Evrard.
Namun, analisis citra satelit terbaru menunjukkan adanya tumpang tindih (overlap) yang mengkhawatirkan antara hutan utuh dengan jalur pembalakan serta konsesi tambang nikel. Fragmentasi hutan terjadi dalam skala yang sangat cepat akibat pembukaan lahan dan aktivitas industri ekstraktif.
“Ekspedisi ini mengungkap nilai ekologis dan hidrologis yang tak ternilai. Jika tidak segera diproteksi dalam satu lanskap konservasi terpadu, warisan arkeologi dan keanekaragaman hayati ini bisa hilang dalam waktu dekat. Ini harus kita jaga. Jika tidak akan seperti di Sumatera,” Evrard menambahkan.
Hasil riset Wallacea Expeditions ini kini telah dihimpun dalam dokumen komprehensif yang akan diserahkan kepada pemerintah pusat sebagai bahan pertimbangan perubahan status hukum kawasan tersebut.
Penulis: Yeni Marinda
Jangan lewatkan video populer:


Discussion about this post