PENASULTRAID, MEDAN – Inisiator Konser Perdamaian Dunia (Konperda), Sutrisno Pangaribuan menyampaikan pandangan dan sikap terkait polemik potongan video ceramah Muhammad Jusuf Kalla (JK) yang beredar secara luas tanpa memenuhi ketentuan penyebarlusan sebuah video ceramah yang bukan produk jurnalistik.
Potongan video tersebut sebelumnya dijadikan bahan untuk menggerakkan reaksi dari berbagai pihak yang justru menimbulkan keriuhan di tengah masyarakat.
Sebagai warga negara Indonesia pemeluk agama Kristen Protestan, jemaat dari Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), Sutrisno melalui keterangan tertulisnya yang diterima redaksi pada Senin 13 April 2026, dengan tegas menyampaikan sejumlah poin pandangannya.
Pertama, video ceramah JK harus dilihat dan dipahami secara utuh tanpa sentimen, emosi, kebencian, dan amarah kelompok sosial masyarakat Indonesia manapun.
Kedua, telah dijelaskan oleh JK sendiri bahwa kejadian yang disebutkan dalam ceramah tersebut tentang konflik berbau SARA di Maluku, Maluku Utara dan Palu saat itu.
Ketiga, tidak terdapat materi ceramah yang menista ajaran agama Kristen, sebab JK menjelaskan bagaimana warga negara yang berbeda agama saling membunuh pada konflik Ambon dan Poso. Faktanya didapati korban dari kedua belah pihak yang berkonflik.
Keempat, reaksi dari berbagai pihak, ormas, OKP, komunitas, perorangan yang mengatasnamakan umat Kristen Indonesia terhadap pernyataan JK tidak mewakili suara dan aspirasi umat Kristen Indonesia. Kecaman, ancaman, ujaran kebencian sebagai reaksi atas ceramah JK justru menjadi bias, aksi reaksi.
“Kelima, bahwa suara umat Kristen secara umum diwakili oleh PGI, PGPI, dan Katolik diwakili oleh KWI. Maka reaksi kelompok di luar itu adalah reaksi biasa yang tidak mewakili suara umat Kristen Indonesia,” tegas Sutrisno.
Jika ada kekeliruan dalam materi yang disampaikan pada ceramah JK, maka, Sutrisno juga berharap agar JK dapat segera bertemu dengan PGI, PGPI, dan KWI supaya polemik dapat diakhiri.


Discussion about this post