“Konsumen mencari kenyamanan, kepercayaan, dan pengalaman konsumsi yang tepat, bukan sekadar produk minumannya saja. Hal ini menjelaskan mengapa jamu umumnya dibeli dari pedagang kaki lima, soda sangat identik dengan supermarket, dan matcha lebih banyak dinikmati di kafe,” terangnya.
Mayoritas konsumen menghabiskan kurang dari Rp25.000 untuk satu minuman
Dari sisi pengeluaran, sebagian besar responden mengaku menghabiskan kurang dari Rp25.000 untuk satu porsi minuman. Hal ini menunjukkan bahwa keterjangkauan harga masih menjadi pertimbangan utama dalam memilih minuman.
Teh menjadi kategori yang paling ekonomis dengan mayoritas konsumen mengeluarkan kurang dari Rp10.000 per sajian. Soda dan jamu juga masih identik dengan kisaran harga yang terjangkau.
Sementara itu, kopi memiliki rentang pengeluaran yang lebih beragam meski sebagian besar konsumennya tetap membelanjakan kurang dari Rp25.000.
Matcha jadi minuman premium yang rela dibayar lebih mahal
Di tengah dominasi minuman dengan harga terjangkau, matcha tampil sebagai pengecualian. Banyak konsumen bersedia mengeluarkan Rp25.000 hingga Rp50.000 untuk satu gelas matcha, menjadikannya satu-satunya kategori dengan pola pengeluaran kelas menengah yang cukup kuat.
Temuan ini menunjukkan bahwa konsumen tidak hanya membeli minuman, tetapi juga nilai dan pengalaman yang melekat pada suatu kategori.
Menurut Septiana, harga tidak hanya menjadi pertimbangan pembelian, tetapi juga membentuk persepsi konsumen terhadap suatu kategori minuman.
“Temuan ini menunjukkan bahwa harga berfungsi sebagai penanda posisi kategori, bukan sekadar pertimbangan dalam pembelian. Matcha telah berhasil membangun citra premium sehingga konsumen bersedia membayar harga lebih tinggi, sedangkan soda dan jamu tetap lekat dengan kesan harga yang terjangkau,” ujarnya.
“Hal ini menegaskan bahwa keberhasilan suatu kategori tidak terlalu bergantung pada persaingan harga, melainkan lebih pada penciptaan nilai yang dirasakan konsumen melalui penentuan posisi yang jelas, pengalaman produk, dan diferensiasi merek,” pungkas Septiana.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:


Discussion about this post