PENASULTRAID, KONAWE SELATAN – Peringatan Hari Desa Nasional yang jatuh pada Kamis, 15 Januari 2026, menjadi momentum reflektif bagi Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), daerah dengan 336 desa yang selama ini menjadi fondasi utama pembangunan wilayah.
Di tengah kebijakan efisiensi dan penyesuaian anggaran, desa kembali diuji: tetap menjadi ujung tombak kesejahteraan rakyat atau justru terpinggirkan oleh keterbatasan fiskal.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Konsel Anni Naim Taridala menegaskan bahwa Hari Desa Nasional tidak boleh dimaknai sekadar sebagai seremoni tahunan, melainkan sebagai pengingat akan posisi strategis desa dalam menentukan arah pembangunan daerah.
“Hari Desa adalah momentum refleksi. Desa merupakan wajah nyata kehadiran negara di tingkat paling bawah. Jika desa kuat, maka daerah akan kuat,” ujar Anni Naim.
Ia menekankan, dalam situasi efisiensi anggaran, pemerintah daerah justru dituntut lebih cermat, tepat sasaran, dan inovatif dalam merancang serta menjalankan program pembangunan desa.
“Di tengah keterbatasan anggaran, kita tidak boleh kehilangan arah. Efisiensi bukan berarti mengurangi perhatian pada desa, tetapi memastikan setiap rupiah benar-benar berdampak bagi masyarakat,” tegasnya.
Visi pembangunan daerah SETARA masyarakat yang Sehat, Cerdas, dan Sejahtera tidak akan terwujud tanpa desa yang kuat dan mandiri. Layanan kesehatan dasar, kualitas pendidikan, ketahanan pangan, hingga penguatan ekonomi lokal, seluruhnya bertumpu pada efektivitas pembangunan desa.
Dengan jumlah desa yang besar dan karakter wilayah yang beragam, Konawe Selatan menghadapi tantangan sekaligus peluang untuk mewujudkan pemerataan pembangunan yang berkeadilan.
Menurut Anni Naim, efisiensi anggaran harus dijadikan momentum memperkuat perencanaan berbasis kebutuhan riil masyarakat desa.


Discussion about this post