Ia mengatakan, sebagian dana sempat digunakan terlebih dahulu untuk mendanai keberangkatan tiga orang perwakilan sekolah ke Jakarta dalam rangka mewakili Sulawesi Tenggara (Sultra).
“Memang sekolah kejuruan memiliki beban biaya yang lebih besar dibandingkan sekolah reguler. Ada kegiatan yang tidak bisa didanai oleh dana BOS, namun harus tetap berjalan,” tutur Husrin.
Sementara itu, Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dikbud Sultra, Husrin berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak.
“Ada hal positif yang perlu kita petik. Salah satunya ada kegiatan-kegiatan di SMK 4 yang tidak bisa dibiayai dananya oleh dana BOS. Itu harus berjalan dan agak berat pembiayaannya. Partisipasi orang tua memang penting, tetapi harus dikelola dengan baik, transparan, dan tidak memberatkan. Tata kelola inilah yang ke depan perlu diperbaiki agar sekolah tetap berjalan optimal,” Husrin menambahkan.
Untuk diketahui, SMKN 4 Kendari sendiri mengelola beberapa program keahlian yang membutuhkan biaya praktik antara lain Kriya Kayu, Batik dan Tekstil, Teknik Komputer Jaringan (TKJ), Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), Broadcasting dan Perfilman, serta Desain Komunikasi Visual (DKV).
Penulis: Yeni Marinda
Jangan lewatkan video populer:


Discussion about this post