Oleh: Fitri Suryani, S.Pd
Pemberitaan tentang saudara-saudara kita di Gaza makin hari keadaannya kian memperihatinkan. Kondisi kelaparan yang makin memburuk di Gaza akibat agresi zionis Israel menyebabkan ratusan warga Palestina tewas. Kementrian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 115 orang meninggal karena kelaparan.
Pun dari Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan, 900.000 anak sedang kelaparan, sementara 70.000 lainnya sudah menunjukkan gejala malnutrisi (Cnnindonesia, 26-07-2025).
Kondisi ini jelas membuat sesak dada-dada bagi yang melihat atau membaca berita tentang penderitaan demi penderitaan yang dialami rakyat Palestina. Kaum muslim di seluruh dunia bukan tak mau membantu, tapi dunia perpolitikan tak sejalan dengan harapan manusia di seluruh dunia.
Negera-negara yang ada pun, khususnya negeri muslim hanya diam, tanpa bisa berbuat sesuatu yang berarti untuk membantu saudara mereka di sana. Para penguasa juga tak dapat berbuat banyak, karena tak mampu melawan tekanan negera adidaya dan konco-konconya sebagai pemilik hak veto.
Berharap pada PBB hanya sekadar angan-angan yang tak mungkin dapat membantu rakyat Palestina. Para aktivis HAM pun tak banyak bersuara bahkan tak berani menentang dengan lantang untuk menekan atau membantu orang-orang yang telah direnggut hak hidupnya sebagai manusia.
Kalau sudah begini kepada siapa lagi rakyat Palestina akan meminta pertolongan atas derita yang tak tahu kapan akan berakhirnya. Sungguh kebrutalan agresi dan blokade atas bantuan kebutuhan pokok merupakan sesuatu yang membunuh warga Palestina pelan, tapi pasti.
Sungguh umat muslim di negeri-negeri muslim begitu nampak posisi mereka di mana. Mereka tak berdaya melawan hegemoni kafir penjajah, walau jumlah mereka sangat banyak. Mereka hanya sebatas mengecam, tanpa ada aksi nyata dalam melakukan pembelaan terhadap saudara seiman mereka yang senantiasa terzalimi.
Beginilah nasib umat akan terus terpuruk selama tidak ada junnah bagi kaum muslim di manapun, sehingga kaum muslim akan selalu tertindas di mana saja.
Padahal umat Islam digambarkan bagaikan satu tubuh. Sebagaimana Rasulullah SAW. bersabda, “Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam hadis tersebut mengajarkan bahwa kaum mukmin semestinya mampu merasakan penderitaan dan kesulitan yang dialami saudaranya yang lain. Sembari berusaha supaya penderitaan dan kesulitan saudaranya itu berkurang hingga hilang semuanya.
Sayangnya keadaan kaum muslim saat ini jauh dari gambaran hadis Rasulullah tersebut. Apabila melihat penderitaan yang dialami oleh rakyat Palestina tampaknya usaha yang dilakukan umat muslim di negeri lain tak begitu berarti.
Dari itu, sudah semestinya kaum muslim bersatu untuk berupaya membantu saudara mereka. Terutama mengirimkan tentara kaum muslim dalam membantu melawan Zionis Israel. Hal itu pun didukung oleh pemimpin yang merupakan perisai. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW., “Sesungguhnya imam (pemimpin) adalah perisai, orang-orang akan berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung.” (HR. Muslim). Hal itu tentu hanya dapat dilakukan, jika umat bersatu dalam sistem Islam.
Oleh karena itu, sulit menghilangkan penderitaan rakyat Palestina, jika sistem yang ada jauh dari harapan umat. Dari itu sudah saatnya militer negeri-negeri muslim bersatu untuk mengenyahkan penjajah dari tanah Palestina dan hal itu hanya mungkin terjadi jika umat ini berada dalam naungan sistem islam, sehingga dengan begitu tidak ada lagi umat yang teraniaya. Wallahu a’lam.(***)
Penulis adalah Freelance Writer
Jangan lewatkan video populer:

Discussion about this post