“Biasanya masih ada sisa. Ini semua laku. Kami merasa benar-benar diperhatikan,” katanya.
Bonyong, dan pelaku UMKM lainnya, menyebut kegiatan ini memberi ruang bagi pedagang kecil untuk ikut dalam arus ekonomi besar, bukan sekadar penonton.
Menjelang sore, dentuman musik tradisional menggema. Kuda lumping menari, anak-anak berlarian, para orang tua berdiskusi tentang harga kelapa dan peluang ekspor. Politik tak lagi terasa sebagai baliho dan janji, tetapi hadir dalam bentuk pasar yang hidup.
Bila ditarik lebih jauh, langkah ini mencerminkan visi PKS tentang pembangunan: menghadirkan keadilan sosial melalui penguatan sektor riil rakyat.
Dalam perspektif Islam, kekuatan ekonomi umat menjadi pilar kemerdekaan bangsa. Ketergantungan pada impor hanya akan membuat kedaulatan rapuh.
Swasembada pangan bukan semata target produksi, tetapi juga kemandirian distribusi dan pengolahan. Apa artinya panen melimpah jika nilai tambah lari ke luar daerah? Apa artinya desa subur bila petaninya tetap miskin?
Karena itu, keberadaan pabrik pengolahan, akses pasar, hingga jaringan pembeli menjadi bagian tak terpisahkan dari gerakan ini. PKS menempatkan diri sebagai akselerator menghubungkan petani dengan teknologi dan pembeli.
Jika konsisten, model seperti Lalonggombu Andolo Utama dan sekitarnya berpotensi menjadi prototipe. Desa bukan lagi objek program, melainkan subjek pembangunan. Petani bukan penerima bantuan, tetapi pelaku utama ekonomi.
Dari kebun kelapa itu, publik melihat satu hal penting: kedaulatan pangan lahir dari kerja yang terorganisir, nilai yang diyakini, dan keberpihakan yang nyata.
Harapan pun tumbuh. Bahwa Indonesia yang berdaulat mungkin benar sedang disemai pelan, tekun, dari tangan para petani di desa.
Jika benih ini dirawat, bukan tidak mungkin, masa depan swasembada pangan nasional akan dikenang bermula dari Pasar Tani Desa Lalonggombu yang dicetuskan oleh kader PKS.
Laporan: Pyan
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:


Discussion about this post