PENASULTRAID, MALANG – Kota Malang tidak kekurangan ruang pamer, namun ruang semata tak pernah cukup tanpa kedalaman gagasan. Di titik inilah Intersection menemukan perannya sebagai pertemuan dua fungsi penting: kurator yang menjaga disiplin konseptual dan akademisi yang menjembatani praktik kampus dengan publik.
Didit Prasetyo dan Adita Ayu Kusumasari datang dari jalur berbeda, tetapi bertemu pada keyakinan yang sama—bahwa seni harus tetap berpikir, sekaligus tetap berhubungan dengan audiensnya. Intersection sendiri merupakan inisiatif tim Swarnaloka untuk membangun ruang temu seni media baru yang berkelanjutan di Malang.
Bagi Didit Prasetyo, dosen dan kurator dengan latar praktik lintas disiplin, pameran bukan sekadar persoalan estetika ruang.
Ia menegaskan bahwa gagasan harus menjadi fondasi sebelum menentukan lokasi, visual, atau medium. Pengalamannya sebagai pengajar membentuk cara pandangnya dalam membaca karya dari proses berpikir, bukan hanya hasil akhir.
Dalam konteks seni media baru, Didit melihat kecenderungan tema tradisi kerap diambil di permukaan karena fokus berlebihan pada eksplorasi medium dan visual, sehingga peran kurator menjadi penting untuk memperdalam pemaknaan tanpa mengintervensi aspek teknis karya.
Sementara itu, Adita Ayu Kusumasari memposisikan Intersection sebagai ruang belajar nyata bagi mahasiswa. Sebagai dosen dan Ketua Program Studi DKV Ubhinus, keterlibatannya berangkat dari pembimbingan tugas akhir yang sejalan dengan risetnya tentang pertemuan seni tradisi dan media art.


Discussion about this post