PENASULTRA.ID, MUNA – Penanganan limbah pada Satuan Pelayanan Pendukung Gizi (SPPG) Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kelurahan Watonea, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menuai keluhan keras dari warga sekitar.
Program strategis nasional Presiden Prabowo Subianto yang bertujuan mendukung tumbuh kembang anak-anak Indonesia justru menimbulkan dampak negatif akibat pengelolaan limbah yang buruk.
Warga setempat mengeluhkan bau busuk menyengat dari limbah sisa makanan, air cucian, dan bahan pengolahan yang tidak ditangani dengan benar.
Hal ini menyebabkan genangan, pencemaran potensial tanah dan air, serta gangguan bagi masyarakat yang lalu-lalang di sekitar lokasi.
Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya menyatakan, limbah sisa makanan, air cucian, serta bahan pengolahan tidak terpakai harusnya melalui proses penanganan yang benar agar tidak menimbulkan bau, genangan, atau potensi pencemaran tanah dan air.
Ia menyebut bahwa pengelola SPPG MBG Watonea diduga tidak memiliki rencana jangka panjang, izin lingkungan, maupun Sertifikat Laik Higienis dan Sanitasi (SLHS).
“Baunya busuk sekali, kadang anak sekolah lewat depan situ tutup-tutup mulut dan bicara busuknya minta ampun. Rencana penanganan limbah mereka tidak matang dan jangan sampai tidak ada izinnya juga. Mereka dapat enaknya dari keuntungan program itu, kita yang dapat bau busuk,” ungkapnya, Kamis 22 Januari 2026.
Ketua RT 01 RW 03 Kelurahan Watonea, LM Ishar juga membenarkan adanya keluhan serius dari warga, terutama yang tinggal dekat septic tank penampungan limbah cair.
“Masyarakat mengeluhkan bau busuk menyengat sampai mereka tidak bisa makan. Bahkan ada yang sampai sakit kepala,” katanya.
Di depan kantor SPPG MBG Watonea, tumpukan sampah padat semakin memperburuk situasi. Persoalan ini telah dirapatkan di Kantor Kelurahan Watonea dengan kehadiran pihak SPPG MBG. Hasilnya, pengelola berjanji menindaklanjuti keluhan tersebut.


Discussion about this post