PENASULTRA.ID, KENDARI – Di balik keindahan motif kain tenun Masalili (kerajinan kain tradisional khas Kabupaten Muna), tersimpan sebuah narasi tentang ketekunan yang luar biasa
Setiap helai benang yang terjalin bukan sekadar hasil kerja tangan, melainkan manifestasi kesabaran yang memakan waktu hingga satu bulan lamanya.
Bagi Siti Erni, salah seorang penenun binaan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara (Sultra), menenun adalah ritual menjaga warisan.
Ia mengungkapkan bahwa proses penciptaan satu lembar kain menuntut fokus penuh dan ketelitian tinggi. Tak ada ruang untuk ketergesaan dalam seni yang seluruhnya dikerjakan secara manual ini.
“Untuk satu kain bisa sampai satu bulan. Semua dikerjakan manual, jadi memang butuh waktu dan fokus,” kata Siti Erni saat diwawancarai di acara Sultra Maimo Fest BI Sultra di Lippo Plaza Kendari beberapa waktu lalu.
Dedikasi para perajin seperti Siti Erni inilah yang menjadikan tenun Masalili memiliki nilai seni sekaligus nilai ekonomi yang tinggi.
Menyadari potensi besar tersebut, Bank Indonesia hadir memberikan pendampingan strategis guna memastikan warisan budaya ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berdaya saing.
Dukungan BI dilakukan secara komprehensif, mulai dari hulu hingga ke hilir. Para perajin tidak hanya dibekali dengan bantuan alat produksi yang lebih memadai, tetapi juga diberikan akses promosi agar produk mereka mampu berbicara banyak di pasar yang lebih luas.


Discussion about this post