Menurut Aska, fenomena pergeseran perilaku ini berakar pada kondisi ekonomi, di mana pendapatan masyarakat cenderung stagnan atau menurun di tengah melonjaknya biaya pengeluaran. Tekanan finansial tersebut memaksa konsumen menjadi jauh lebih selektif dan berhati-hati dalam mengalokasikan anggaran belanja mereka.
“Akibatnya, konsumen membangun kebiasaan baru untuk melakukan riset komprehensif melalui media sosial guna memastikan nilai dan kualitas barang sebelum memutuskan untuk melakukan pembelian, demi meminimalkan risiko kesalahan belanja di masa sulit,” terangnya.
Selain e-commerce dan media sosial brand, konsumen juga window shopping di marketplace online (16%), quick-commerce (16%), dan website resmi brand (14%).
Tren E-commerce: Shopee Tetap Unggul, TikTok Shop Salip Tokopedia
Shopee menjadi e-commerce yang paling banyak digunakan oleh responden pada semester kedua 2025, dengan persentase 85%, naik 3% dari tahun lalu.
Sementara, social-commerce TikTok Shop berada di posisi kedua (51%) dengan kenaikan 10%. Selanjutnya, ada Tokopedia yang mengalami penurunan sebanyak 12% menjadi 32% di paruh kedua 2025.
Rata-rata pengeluaran e-commerce per bulan berada di angka Rp469.575 sepanjang semester kedua 2025, mencatatkan kenaikan marginal sebesar 1% secara tahunan dari Rp463.439.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:


Discussion about this post