PENASULTRAID, KONAWE SELATAN – Ketua DPRD Konawe Selatan (Konsel), Hamrin memberikan analisis mendalam terkait kondisi ekonomi daerah di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah dan dinamika konflik global yang turut memengaruhi stabilitas harga serta distribusi kebutuhan pokok.
Menurut Hamrin, kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak pada pengurangan belanja pemerintah baik proyek pembangunan maupun bantuan memang menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas fiskal.
Namun di sisi lain, kebijakan tersebut berpotensi memperlambat perputaran uang di daerah.
“Efisiensi anggaran adalah langkah realistis dalam situasi saat ini. Namun kita harus jujur bahwa pengurangan belanja pemerintah akan berdampak pada melambatnya aktivitas ekonomi lokal, terutama di daerah yang masih bergantung pada belanja negara,” ujar Hamrin, Rabu 1 April 2026.
Hamrin menyebut, tekanan dari konflik global juga tidak bisa diabaikan. Bayang-bayang Kenaikan harga BBM, serta biaya logistik menjadi ancaman nyata yang dapat memicu kenaikan biaya produksi di sektor pertanian dan perikanan.
“Ketidakpastian global tentu bakal berpengaruh pada nilai tukar dan distribusi barang. Ini berpotensi meningkatkan biaya produksi, sehingga masyarakat harus lebih adaptif dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada sistem yang rentan terhadap gejolak eksternal,” jelasnya.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, Hamrin menekankan pentingnya penguatan ekonomi berbasis keluarga dan komunitas. Ia mengajak masyarakat untuk mulai mengurangi pengeluaran konsumtif dan lebih memprioritaskan kebutuhan pokok serta kegiatan produktif.
“Masyarakat harus dipastikan telah mulai membangun kemandirian ekonomi dari rumah. Usaha kecil berbasis keluarga seperti pengolahan hasil pertanian dan perikanan, termasuk usaha kripik dan olahan hasil laut, harus terus didorong,” katanya.
Hamrin juga menekankan pentingnya mencintai dan menggunakan produk lokal sebagai bentuk dukungan nyata terhadap ekonomi daerah.
“Beli hasil petani dan nelayan lokal. Dengan begitu, kita tidak hanya memenuhi kebutuhan, tapi juga menggerakkan roda ekonomi di Konawe Selatan,” tambahnya.
Selain itu, Hamrin mendorong penguatan gerakan gotong royong melalui kelompok tani, nelayan, serta pembentukan koperasi dan komunitas usaha bersama. Khusus bagi petani di Konawe Selatan, Hamrin memberikan penekanan pada tiga aspek utama, yakni peningkatan produksi, efisiensi, dan kolaborasi.
“Mari tingkatkan produktivitas lahan, manfaatkan teknologi sederhana dan pupuk alternatif agar tidak terlalu bergantung pada impor,” tegasnya.
Hamrin juga mengingatkan pentingnya kerja kolektif antarpetani.
“Perkuat kelompok tani, jangan jalan sendiri-sendiri. Kolaborasi adalah kunci agar kita bisa bertahan dan berkembang di tengah tekanan global,” ujarnya.
Hamrin turut mendorong diversifikasi tanaman agar petani tidak hanya bergantung pada satu komoditas.
“Diversifikasi tanaman penting untuk menjaga stabilitas pendapatan dan mengurangi risiko gagal panen,” katanya.
Hamrin menegaskan peran strategis petani sebagai garda terdepan ketahanan pangan daerah.
“Petani Konawe Selatan adalah tulang punggung ketahanan pangan. Di tengah tantangan global, justru petani harus menjadi ujung tombak kemandirian daerah,” ungkapnya.


Discussion about this post