Ketua POPSI, Mansuetus Darto, menekankan bahwa workshop ini bertujuan mengubah paradigma petani dari sekadar bertani untuk bertahan hidup menjadi bertani untuk keberlanjutan.
Ia menegaskan tiga pilar utama untuk mengoptimalkan potensi ekonomi daerah 3T yakni adopsi benih unggul bersertifikat untuk memutus rantai penggunaan benih ilegal. Kemudian implementasi GAP sebagai penerapan praktik budidaya terbaik. Lalu penguatan kelembagaan untuk memperkuat kemitraan antara petani, koperasi, dan perusahaan.
Kepala Divisi Kerjasama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menegaskan komitmennya dalam mendukung kolaborasi ini.
“Penelitian BRIN menunjukkan sawit mampu menggerakkan ekonomi di daerah 3T. Kami akan terus mendukung agar hambatan di sisi hulu, terutama terkait rekomtek, dapat segera teratasi,” jelas Helmi.
Sebagai informasi, bantuan dana PSR dari BPDP mencakup berbagai biaya operasional, mulai dari pembersihan lahan (land clearing), pembelian bibit unggul, pemupukan, hingga pengajuan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Acara yang disponsori oleh Prime Agri Resources dan Bakti Tani Nusantara ini merupakan seri pembuka, yang nantinya akan dilanjutkan di Sorong, Papua Barat Daya, pada 24 Juni 2026 mendatang.
Penulis: Yeni Marinda
Jangan lewatkan video populer:


Discussion about this post