Akar Masalah: Ketika Dunia Lebih Megah dari Masjid
Kalau kita renungkan, mengapa di Masjidil Haram umat berjuang sedemikian rupa, sementara di tanah air masjid-masjid sepi? Jawabannya bukan karena masjid kita kurang megah. Justru mungkin masjid-masjid kita kini lebih megah dari sebagian masjid-masjid di negeri-negeri Islam lainnya. Akar masalahnya ada di hati, bukan di bangunan.
Di Masjidil Haram, hati setiap jamaah sedang dalam kondisi “sadar”—mereka tahu sedang berada di tanah suci, tahu sedang menghadap rumah Allah pertama, tahu setiap detik di sana berharga. Kesadaran inilah yang membuat lelah menjadi ringan, panas menjadi sejuk, dan desakan menjadi nikmat.
Di tanah air, hati kita sedang “tertidur.” Kemudahan justru melahirkan kelalaian. Kedekatan masjid melahirkan rasa “kapan-kapan.” Karpet yang tebal dan AC yang dingin tidak mampu menggantikan satu hal yang hilang: rasa rindu kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiqun [63]: 9).
Pekerjaan, dagangan, gawai, hiburan, kasur empuk, dan kesibukan duniawi—semua ini menjadi tembok-tembok tak terlihat yang memisahkan kaki kita dari masjid, padahal jaraknya hanya beberapa langkah.
Tujuh Golongan yang Dinaungi Allah: Adakah Kita di Antaranya?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Salah satunya adalah:
“…seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah, dan seorang yang hatinya terpaut dengan masjid…” (HR. Al-Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
“Hatinya terpaut dengan masjid”—qalbuhu mu’allaqun bil-masaajid. Maknanya adalah seseorang yang setiap kali keluar dari masjid, hatinya sudah merindukan untuk kembali. Bukan sekadar hadir karena kewajiban, tetapi hadir karena kerinduan.
Inilah yang membedakan jamaah Masjidil Haram dengan banyak dari kita. Mereka pulang dari masjid dengan hati yang terikat. Kita pulang dari masjid (bila pun kita pernah ke sana) dengan hati yang sudah kembali ke televisi dan media sosial.
Refleksi: Apa yang Harus Kita Lakukan?
Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Ia ditujukan pertama-tama untuk diri penulis sendiri, kemudian untuk setiap kita yang merasa hatinya tergerak. Beberapa langkah praktis yang bisa kita mulai:
Pertama, luruskan niat dan tanamkan kesadaran nilai. Setiap langkah ke masjid dicatat sebagai kebaikan yang menghapus dosa dan mengangkat derajat (HR. Muslim no. 666). Bila kita benar-benar memahami hal ini, kaki kita tidak akan berat untuk melangkah.
Kedua, mulai dari satu shalat. Tidak perlu langsung lima waktu. Mulai dari Subuh, atau Maghrib yang paling mudah karena selepas waktu kerja. Bangun konsistensi, kemudian tambahkan.
Ketiga, ajak keluarga dan tetangga. Memakmurkan masjid bukan hanya urusan pribadi. Ia adalah proyek bersama umat. Jadikan rumah-rumah kita sebagai pintu yang mengalirkan jamaah ke masjid.
Keempat, bandingkan diri dengan saudara di Masjidil Haram, bukan dengan tetangga yang lebih malas dari kita. Setiap kali rasa malas datang, bayangkan jamaah haji yang berjalan sejak pukul tiga subuh demi shalat subuh di Masjidil Haram. Apa alasan kita yang rumahnya hanya seratus meter dari masjid?
Kelima, doakan agar hati kita dipautkan dengan masjid. Sebagaimana doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim [14]: 40).
Jangan Sampai Masjid Kita Mengadu kepada Allah
Ada sebuah hikmah yang sering disampaikan para ulama: pada hari kiamat, ada masjid-masjid yang akan mengadu kepada Allah karena ditinggalkan oleh penduduk di sekitarnya. Bangunannya megah, lampunya menyala, karpetnya bersih, tetapi shaf-shafnya kosong.
Sementara di belahan dunia lain, ada hamba-hamba Allah yang menabung bertahun-tahun, menjual harta benda, dan menempuh ribuan kilometer hanya untuk satu kesempatan sujud di rumah Allah.
Kontras ini adalah cermin. Cermin yang seharusnya membuat kita malu—bukan kepada manusia, tetapi kepada Allah yang telah memudahkan kita dengan masjid yang dekat, jalan yang aman, dan tubuh yang sehat, namun kita masih saja memilih untuk tinggal di rumah.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memautkan hati kita kepada rumah-rumah-Nya, menjadikan kita di antara hamba-hamba yang memakmurkan masjid, dan memberi kita kekuatan untuk menjawab setiap panggilan azan dengan langkah yang bergegas, sebagaimana saudara-saudara kita yang berjuang di tanah suci.
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 43). Wallahu a’lam bish-shawab.
(Pengingat untuk diri sendiri, dari hiruk pikuk kepadatan di Masjidil Haram-Makkah al Mukarramah)
Penulis adalah Dokter Jantung di Kota Kendari
Jangan lewatkan video populer:


Discussion about this post