“Cadangan terukur terkira sudah sekitar 1 miliar ton. Ini termasuk yang terbesar di dunia, bahkan dibandingkan dengan wilayah Halmahera atau Sulawesi Tengah,” jelas Yudi.
Dengan potensi sebesar itu, koalisi menekankan pentingnya pengelolaan yang berkelanjutan agar tidak hanya meninggalkan “kota hantu” setelah cadangan habis.
Mulai esok hari, koalisi akan mengaktifkan Posko Perjuangan di Kendari sebagai pusat gerakan. Sementara itu, perwakilan Aliansi Masyarakat Routa Bersatu, Rafly menambahkan bahwa perjuangan ini telah dimulai sejak September tahun lalu untuk menagih janji perusahaan yang tertuang dalam dokumen Amdal tahun 2019.
Koalisi menyatakan akan membawa isu ini hingga ke tingkat pusat karena kewenangan pertambangan berada di bawah pemerintah pusat. Mereka juga membuka ruang bagi seluruh elemen masyarakat Sulawesi Tenggara yang peduli untuk bergabung dalam koalisi “Save Routa”.
Editor: Ridho Achmed
Jangan lewatkan video populer:


Discussion about this post