Namun kepemimpinan sejati justru terlihat ketika negara tidak tunduk pada tekanan opini sesaat. Presiden Prabowo Subianto mengambil keputusan ini dengan kesadaran penuh bahwa diplomasi efektif selalu mengandung risiko politik. Risiko tersebut harus dihadapi demi dampak jangka panjang yang lebih besar bagi kepentingan kemanusiaan dan keadilan global.
Selama puluhan tahun, Indonesia konsisten mendukung Palestina. Konsistensi itu hari ini diperbarui, diupgrade menjadi lebih terkristal. Dunia internasional bergerak melalui dewan, komite, dan mekanisme formal.
Indonesia juga menegaskan memiliki opsi politik untuk menarik diri apabila arah Board of Peace menyimpang dari prinsip kemerdekaan Palestina atau tidak lagi sejalan dengan solusi dua negara yang diperjuangkan.
Selain itu, strategi Presiden juga mencakup kesiapan untuk berkontribusi secara finansial sebagai bagian dari tanggung jawab kolektif dalam desain rekonstruksi dan stabilisasi Palestina pasca konflik, sebagai bentuk diplomasi yang tidak hanya simbolik tetapi juga substantif.
Tanpa kehadiran dalam struktur semacam itu, perjuangan hanya akan berputar pada pernyataan moral yang berulang dan mudah diabaikan. Masuk BoP memberi Indonesia kanal langsung untuk menyampaikan keberatan, koreksi, dan tekanan kebijakan terhadap pendekatan internasional yang timpang.
Indonesia membawa perspektif bangsa yang lahir dari perjuangan anti-kolonial, sebuah perspektif yang relevan dan memiliki bobot moral kuat dalam setiap percakapan global tentang Palestina.
Perlu ditegaskan, keberpihakan tidak diukur dari seberapa keras teriakan, melainkan dari seberapa jauh pengaruh kebijakan dapat digeser. Palestina membutuhkan lebih dari simpati dan kecaman. Palestina membutuhkan negara sahabat yang bersedia masuk ke arena sulit, berdebat keras, dan mengawal agenda keadilan dari dalam sistem internasional.
Indonesia sedang menjalankan peran tersebut.
Keputusan ini menegaskan bahwa politik luar negeri Indonesia bergerak maju, adaptif, dan berani. Ini adalah diplomasi yang bekerja, diplomasi yang memilih dampak ketimbang sensasi, serta diplomasi yang memahami bahwa sejarah selalu mencatat mereka yang berani bertindak ketika isu digoreng, disederhanakan, dan dipelintir.
Indonesia memilih tetap berdiri, tetap terlibat, dan tetap memperjuangkan Palestina melalui jalur kebijakan global yang nyata. Dan itulah makna kenegarawanan dalam politik luar negeri hari ini.(***)
Penulis adalah Guru Besar Hubungan Internasional, Busan University of Foreign Studies (BUFS), Korea Selatan; Visiting Professor, Tomsk State University (TSU), Federasi Rusia; Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional
Jangan lewatkan video populer:


Discussion about this post