Oleh: Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si
Keputusan Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP) harus dibaca sebagai langkah politik luar negeri yang serius, rasional, dan berorientasi hasil.
Ini adalah pilihan strategis yang menunjukkan kematangan negara dalam membaca dinamika geopolitik global, khususnya terkait masa depan perjuangan Palestina yang semakin kompleks dan penuh tarik-menarik kepentingan internasional.
Keputusan ini lahir dari strategi diplomasi tingkat tinggi yang dipimpin langsung Presiden Prabowo Subianto, yang melihat bahwa arena pengambilan keputusan global tidak boleh ditinggalkan apabila Indonesia ingin menggeser arah kebijakan internasional terkait Palestina.
Dalam politik internasional, pengaruh lahir dari kehadiran aktif dalam mekanisme pengambilan keputusan.
Tujuan utama keikutsertaan Indonesia adalah memastikan perjuangan kemerdekaan Palestina tetap menjadi agenda utama, sekaligus mendorong terwujudnya solusi dua negara sebagai kerangka diplomasi internasional yang realistis dan berkelanjutan.
Negara yang memilih hadir memiliki kemampuan memengaruhi arah kebijakan, sementara negara yang menjauh hanya akan menyaksikan keputusan ditetapkan pihak lain.
Board of Peace adalah forum yang membahas stabilisasi, rekonstruksi, dan desain perdamaian Palestina pasca-konflik. Di sanalah agenda internasional dirumuskan, prioritas ditentukan, dan narasi global dibentuk.
Selama prinsip kemerdekaan Palestina dan solusi dua negara tetap menjadi arah utama, partisipasi Indonesia memiliki legitimasi politik dan moral yang kuat sekaligus strategis.
Ketika Indonesia duduk di dalam forum tersebut, Indonesia mengambil peran sebagai aktor yang ikut menentukan, bukan sekadar pengamat. Ini adalah pergeseran penting dari diplomasi simbolik menuju diplomasi struktural.
Sudah dapat dipastikan keputusan ini memunculkan penolakan. Sudah dapat dipastikan ada pihak-pihak yang merasa tidak nyaman. Isu Palestina selalu menjadi medan yang mudah digoreng, dipelintir, dan dijadikan alat agitasi politik. Setiap langkah strategis kerap diseret menjadi tudingan ideologis, seolah diplomasi hanya boleh dibaca secara hitam putih.
Sebagian pihak memilih memainkan emosi publik, memelihara kecurigaan, dan membangun framing narasi ketakutan. Padahal dalam politik internasional, ketakutan yang dipelihara tanpa pemahaman hanya melahirkan stagnasi. Perjuangan Palestina tidak akan bergerak maju jika setiap keputusan strategis selalu dicurigai sebelum diuji secara rasional.
Indonesia mengerti sekali bahwa masuk ke BoP, berarti siap menghadapi resistensi. Presiden Prabowo Subianto mengambil keputusan ini melalui pendekatan strategis yang melibatkan konsultasi dengan para mantan Menteri Luar Negeri, tokoh agama, serta pemangku kepentingan nasional guna memastikan bahwa langkah diplomasi ini memiliki landasan politik, moral, dan konsensus nasional yang kuat.


Discussion about this post